suplemenGKI.com

Bacaan : Mazmur 119 : 1-8

Rahasia hidup bahagia.

 Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk terus bertumbuh dan mau belajar lebih dalam tentang Allah dan kehendakNya, agar hidup kita berkenan dihadapanNya.

 Dengan cara apakah orang percaya dapat hidup bahagia?

  1. Apa yang ingin pemazmur ungkapkan lewat bacaan ini?
  2. Apa yang terjadi bila orang percaya hidup dalam Taurat Tuhan?
  3. Sebagai orang percaya, bagaimana Anda memaknai hidup? Sudahkah Anda menjadi orang-orang yang berbahagia?

RENUNGAN

Mazmur 119 adalah ungkapan kasih yang mendalam terhadap firman Allah. Firman Allah disebut sebagai perintah, pedoman, kesaksian, ajaran, hikmat, kebenaran, keadilan, dan teguran. Firman Allah berfungsi sebagai penghiburan, perlindungan, harta, patokan hidup, kebahagiaan hati dan jiwa, dan sumber jawaban segala kebutuhan. Kita akan bertumbuh dalam kasih karunia dan kebenaran hanya bila kasih akan Firman itu bertumbuh dalam diri kita dan kita bertaut kepada firman Allah. Tanpa firman Allah, kita akan memiliki kehidupan yang sangat rapuh. Pemazmur mengajak kita untuk memegang, mengajarkan, mencintai, mengingat dan merenungkan firman Allah.

Dari ayat 1-8, kita melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang hidup dalam Taurat Tuhan. Pertama, orang yang berjalan dalam ketaatan sepenuh hati pada Taurat akan diberkati. Ketaatan ini diwujudkan dalam cara hidup yang tidak bercela, dan yang tidak melakukan kejahatan.
 Kedua, orang-orang yang lebih menaati firman Tuhan, tidak akan merasa malu (Ibr. buwsh : bingung, sangat kecewa, dihina, hancur) dan
yang ketiga, orang yang diberkati firman Tuhan akan bersyukur, karena itu ia akan lebih banyak mempelajari ketetapan Tuhan.

Seperti layaknya lampu merah dipersimpangan jalan, Kitab Suci juga memiliki banyak “lampu merah” yang berfungsi untuk mengontrol kehidupan kita sebagai orang Kristen. Lampu-lampu merah itu diantaranya berupa larangan untuk sombong, benci, tidak sopan, mementingkan diri sendiri, dan sebagainya. Tatkala Roh Kudus menyuruh kita untuk waspada terhadap hal-hal tersebut, kita harus segera menginjak rem. Sebaliknya, ketika kita “berkendaraan di jalanan yang ramai” dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus cepat tanggap terhadap “lampu hijau” kebaikan, kerendahan hati, kasih, dan ketulusan hati. Lampu merah dan lampu hijau dari Allah dirancang untuk menolong kita. Semestinya kita takut mengabaikan perintah Allah dalam Kitab suci, karena itu berarti kita menerobos “lampu merah” Allah. 

“Lampu-Lampu Merah” dalam Alkitab Diberikan untuk Melindungi,
Memperbaiki dan Mengarahkan Hidup Kita

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«