suplemenGKI.com

Kebesaran Allah Adalah Landasan Hidup Berpengharapan

Mazmur 147:1-6

Pengantar

Mazmur 147 ini adalah mazmur pujian, sama halnya dengan Mazmur 146, 148–150. Sebagai Mazmur pujian, Pemazmur menyerukan, “Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.” Nampaknya seruan ini menunjukkan bahwa Mazmur 147 merupakan mazmur pujian komunal, berbeda dengan Mazmur 146 yang bersifat personal, di mana seruan untuk memuji tersebut ditujukan kepada diri sendiri, “Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mari kita hayati dan renungkan Mazmur pujian komunal ini.

Pemahaman

- Mengapa Pemazmur mengatakan bahwa bermazmur bagi Allah itu baik, bahkan indah, dan memuji-muji Allah itu memang layak dilakukan (ay. 1)?

- Alasan apa saja yang membuat Saudara sulit untuk memuji Allah?

Segera sesudah menyerukan ajakan untuk bermazmur bagi Allah, Pemazmur memaparkan berbagai karya Allah yang luar biasa yang menjadi alasan bermazmur bagi Allah. Hal pertama adalah karena “TUHAN membangun Yerusalem” (ay. 2a). Pembangunan ini bukanlah bersifat renovasi, melainkan lebih bersifat pemulihan. Sebab pada waktu itu kondisi Yerusalem sedang hancur, diporak-porandakan sewaktu kalah dalam peperangan. Secara manusia, membangun kembali Yerusalem adalah hal yang mustahil. Tapi justru di sinilah Pemazmur menunjukkan kebesaran Allah. Betapa tidak, Yerusalem adalah ibukota Israel. Sebagai bangsa yang kalah perang, bila membangun ibukota yang sudah dihancurkan oleh musuh, maka hal tersebut menunjukkan suatu pemberontakan dan pembangunan tersebut akan diratakan kembali oleh bangsa yang telah mengalahkannya itu. Hal ini dapat kita lihat pada kisah Sanbalat dan Tobia yang menentang tindakan Nehemia membangun Yerusalem.

Selain membangun kembali Yerusalem, Pemazmur juga menunjukkan kebesaran Allah melalui karya-Nya yang “mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;” (ay. 2b). Sama halnya dengan pembangunan Yerusalem, mengumpulkan orang Israel yang berserakan tersebut juga dapat dikatakan mustahil. Sebab kondisi bangsa Israel pada waktu itu adalah sebagai tawanan yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Itu juga berarti mereka tidak memiliki jaringan – termasuk alat transportasi dan telekomunikasi – yang dapat menggerakkan massa secara cepat. Namun semuanya itu terjadi, sekaligus menunjukkan kebesaran Allah yang patut dipuji. Apalagi mengingat mereka adalah orang-orang yang patah hati (ay.3), yaitu yang hatinya hancur, tidak memiliki pengharapan serta semangat untuk dapat memulihkan masa depan mereka. Namun, karena kebesaran Allah, semua yang nampak tidak mungkin itu menjadi kenyataan.

Refleksi:

Mungkin saat ini kita termasuk dalam orang-orang yang tersingkirkan, tidak punya harapan akan masa depan, atau orang yang hatinya hancur, terluka, patah hati. Pemazmur menyaksikan kebesaran Tuhan yang mampu memulihkan segalanya.

Tekadku:

Doa: Tuhan, tolong saya untuk terus mengingat kebesaran-Mu. Amin.

Tindakanku:

Saya akan menghafal Mazmur 147:5, “Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*