suplemenGKI.com

Kemuliaan Tuhan, sebagai Raja (2)

Mazmur 99:4-9

Pengantar

Melanjutkan perenungan kemarin, hari ini kita akan kembali merenungkan Mazmur 99. Kalau kemarin kita merenungkan pesan yang terkandung dalam bait pertama dari Mazmur 99 ini, maka hari ini kita akan merenungkan bait kedua (ay. 4-5) dan ketiga (ay. 6-9)

Pemahaman

Ay. 4-5    : Bagaimanakah Pemazmur menggambarkan Tuhan di dalam kedua ayat ini? Apakah hubungan penggambaran tersebut dengan kehidupan Saudara sehari-hari?

Ay. 6-9    : Bagaimanakah Pemazmur menggambarkan Tuhan di dalam keempat ayat ini? Apakah hubungan penggambaran tersebut dengan kehidupan Saudara sehari-hari?

Di dalam baitnya yang kedua, Pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Raja yang mencintai hukum. Kecintaan terhadap hukum itu diwujudkan dengan sikap menegakkan kebenaran.  Kalau kita melihat kehidupan para raja yang tercatat di dalam sejarah Israel (kitab 1 & 2 Raja-Raja), maka menjadi nyata bahwa sikap mencintai hukum ini merupakan kunci keberhasilan para raja. Kehancuran bangsa Israel adalah akibat dari para raja yang memimpin tanpa menegakkan hukum. Karena itu Pemazmur mengundang kita untuk sujud menyembah Dia, Sang Raja yang mencintai hukum itu. Pada waktu kita sujud menyembah Dia, maka berarti kita juga mau turut serta di dalam pola perilaku Sang Raja untuk mencintai hukum.

Sedangkan di dalam baitnya yang ketiga, Pemazmur mendeskripsikan Tuhan sebagai Pribadi yang mendengarkan doa serta memberikan wahyu. Dialah yang menjawab doa Musa, Harun dan Samuel. Umumnya, Musa dilihat sebagai figur yang terkait dengan hukum, Harun mewakili keimaman dan Samuel mewakili kenabian. Namun di sini ketiganya dilihat sebagai sosok yang menjadi perantara, memanjatkan doa bagi umat Allah (Kel. 28:38; 32; Bil. 14:13-20; 1Sa. 7:9; 12:19). Kemudian bait yang ketiga ini juga ditutup dengan kalimat yang senada dengan akhir bait kedua, karena itu dapat dianggap sebagai refrein.

Refleksi

Pengenalan Pemazmur kepada Allah, membuat dia menyerukan agar kita meninggikan Allah sekaligus menundukkan diri di hadapan-Nya. Bagaimana dengan respon kita? Apakah melalui kehidupan kita Allah semakin ditinggikan, atau semakin direndahkan? Barangsiapa tidak mau menundukkan diri di hadapan-Nya, ia pasti merendahkan Allah. sebaliknya, barangsiapa mau menundukkan diri di hadapan Allah, ia pasti meninggikan Allah.

Tekad

Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk terus merendahkan diri di hadapan-Mu, agar mampu meninggikan Engkau. Amin.

Tindakan

Untuk belajar merendahkan diri di hadapan-Nya, seminggu ini saya akan menghafal Yohanes 3:30.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*