suplemenGKI.com

Rabu, 3 Oktober 2012

02/10/2012

Mazmur 8

 

Antara yang Mulia dan yang Hina

 

Mazmur 8 ini dibukan dengan sebuah pernyataan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”. Kalimat pembuka ini kemudian menjiwai mazmur ini secara keseluruhan. Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan bahwa tema Mazmur 8 ini adalah tentang keagungan Tuhan. Marilah kita merenungkan keagungan Tuhan yang dilantunkan Pemazmur ini.

 - Apakah yang terbersit dalam benak Saudara ketika mendengar kemuliaan Tuhan?

- Dapatkah Saudara menggambarkan keagungan Tuhan dalam karya tangan-Nya? dan bagaimanakah wujud kekaguman Saudara?

 

Renungan

Dalam mengawali kidungnya kali ini, Pemazmur menyatakan bukan hanya betapa mulianya Tuhan itu, tetapi juga bahwa keagungan TUHAN yang mengatasi langit itu dinyanyikan. Menarik sekali kalau kita melihat bagaimana Pemazmur menghubungkan subyek yang melantunkan pujian keagungan tersebut dengan bayi. Sosok bayi tentulah identik dengan sosok yang sangat tidak berdaya. Namun dikatakan bahwa dalam mulut bayi-bayi sekalipun Allah telah meletakkan dasar kekuatan sehingga para bayi itupun dapat menyanyikan keagungan Tuhan yang mengatasi langit tersebut (bnd terj. Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Keagungan Tuhan yang mengatasi langit itu nampak dalam karya-Nya. Pemazmur mengagumi kebesaran Tuhan tatkala melihat langit, karya tangan-Nya. Nampaknya langit yang dimaksud Pemazmur ini adalah langit waktu malam hari, sebab di sini disebutkan tentang bulan dan bintang. Sedikit berbeda dengan keadaan di Indonesia, langit di daerah Palestina umumnya jarang tertutup awan. Dengan demikian kita dapat membayangkan langit yang terang dengan bulan yang benderang serta taburan bintang yang cemerlang, sangat kontras dengan gelapnya malam, sehingga tidaklah mengherankan kalau menimbulkan kekaguman dalam diri Pemazmur.

Kalau hasil karyanya saja sedemikian mengagumkan, tentulah Sang Pencipta lebih mengagumkan lagi. Namun yang paling mengagumkan adalah ternyata Sang Pencipta yang begitu luar biasa tersebut sangat mempedulikan manusia yang penuh kelemahan, bahkan menetapkannya sebagai penguasa atas buatan tangan-Nya.

Kadang, kelemahan-kelemahan yang kita miliki dan kesalahan-kesalahan maupun kegagalan-kegagalan yang kita alami, dapat membuat kita merasa tidak berharga. Mazmur 8 ini mengingatkan bahwa seburuk apapun kita, baik di mata sesama maupun mata kita sendiri, Tuhan tetap mengasihi kita, menetapkan kita menjadi makhluk yang sangat berharga. Dia senantiasa mengindahkan kita, membuat kita hampir sama seperti Allah, serta memahkotai ita dengan kemuliaan dan hormat. Tetaplah fokus pada karya-Nya dalam hidup kita. Maka meski kita lemah tak berdaya seperti bayi, namun kita akan tetap dapat melantunkan puji bagi-Nya.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«