suplemenGKI.com

TERBUKA DI HADAPAN TUHAN DAN SESAMA

Kejadian 20:1-18

 

Pengantar
Setiap manusia pasti tak luput dari kesalahan. Sikap dalam meresponi kesalahan yang telah diperbuat pun bermacam-macam. Ada orang yang akan spontan dalam mengakui kesalahannya, tetapi ada juga yang merasa dirinya bersalah dan tidak mengakui kesalahannya secara terang-terangan. Selain itu, ada orang yang tetap tidak mau mengakui kesalahannya, sekalipun bukti nyata perbuatannya telah terkumpul. Saudara, bersikap jujur atau terbuka mengakui kesalahan dapat dikatakan susah-susah gampang. Hal itu terjadi karena setiap manusia memiliki perbedaan karakter yang telah terbentuk sejak dini. Lantas, bagaimanakah respon orang beriman ketika telah melakukan pelanggaran di hadapan Tuhan dan sesama? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 2, 11-12                : Apa alasan Abraham menutupi status Sara di hadapan Abimelekh?
  • Ayat 6-7         : Perintah apakah yang Allah berikan pada Abimelekh?
  • Ayat 14-16    : Bagaimanakah proses rekonsiliasi yang terjadi antara Abraham dengan Abimelekh?

Abraham dan Sara beserta para pengikutnya, sedang menjalani kehidupan nomaden. Mereka melakukan perjalanan meninggalkan tempat asalnya untuk menuju tanah perjanjian yang Tuhan telah janjikan. Suatu ketika Abraham melanjutkan perjalanan ke tanah Negeb dan tinggal di Gerar sebagai orang asing. Ia bertemu dengan Abimelekh, raja Gerar. Dalam perjumpaannya itulah, ia menutupi status Sara yang sesungguhnya dan berkata bahwa Sara adalah saudaranya (ayat 2). Abraham berdusta akan status istrinya karena ia takut jika dibunuh dan berharap mendapatkan perlakuan yang baik ketika ia menumpang untuk tinggal sementara di tempat orang asing (ayat 11). Pada dasarnya, Sara memang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Abraham. Tetapi dusta yang diperbuat oleh Abraham tidak dapat dibenarkan.

Abimelekh yang tak tahu apa-apa, mengambil Sara dari Abraham. Tetapi ketika ia belum menghampiri Sara, Tuhan mencegahnya berbuat dosa (ayat 6). Ironisnya, karena dusta Abraham dan ketidaktahuan Abimelekh, hal itu menjadi jerat bagi bangsanya sehingga Tuhan menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh (ayat 18). Abimelekh memerlukan pengampunan dari Tuhan, dan ia pun mengembalikan Sara pada Abraham. Ia menyelesaikan semua persoalannya, memberikan ganti rugi pada Abraham sebagai tanda perdamaian, dan memberi ijin bagi Abraham untuk tinggal di daerahnya (ayat 14-16). Rekonsiliasi di antara keduanya juga menghasilkan pemulihan bagi Abimelekh dan seisi istananya, yakni pengampunan Tuhan turun atasnya dan memulihkan seluruh perempuan yang ada di istananya (ayat 17). Melalui cerita ini kita diingatkan bahwa pentingnya untuk memiliki kepekaan dan kerendahan hati dalam mengakui setiap kesalahan, baik di hadapan Tuhan dan sesama. Harus diakui bahwa bersikap jujur adakalanya membutuhkan proses. Tetapi ingatlah selalu bahwa ada anugerah Allah yang mengampuni dan memulihkan, sehingga kita dapat hidup berdampingan dengan sesama dalam damai sejahtera Allah.

Refleksi
Hal-hal apa sajakah yang membuat seseorang kurang dapat terbuka mengakui kesalahannya di hadapan Tuhan dan sesama? Berdasarkan pengalaman saudara, apa yang saudara lakukan ketika peka dan sadar telah melakukan kesalahan di hadapan Tuhan maupun sesama?

Tekadku
Tuhan, ajarku untuk mengikis keangkuhan hidup agar dapat mengakui segala pelanggaran dihadapan Engkau dan sesama. Mampukanku, agar dapat menjalani hidup yang penuh kasih bersama dengan orang-orang sekelilingku.

Tindakanku
Selain memohon ampun atas kelemahan dan pelanggaranku di hadapan Tuhan, aku akan belajar untuk mengikis keegoisan dan gengsi, dengan bersedia meminta maaf secara tulus ketika melakukan kesalahan pada orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*