suplemenGKI.com

Rabu, 29 Juni 2016

28/06/2016

Tuhan, Sang Pengubah Ratapan Menjadi Tarian

Mazmur 30

Pengantar

Bagi kita yang pernah berada pada titik nadir (titik terbawah) kehidupan pasti bisa menghayati apa yang Pemazmur ungkapkan dalam ayat-ayat berikut ini. Titik nadir itu bisa berupa sakit penyakit, kegagalan rumah tangga, bisnis yang bangkrut atau apa saja. “Seakan mau mati rasanya”, begitu yang sering dilontarkan oleh mereka yang pernah berada pada titik terbawah kehidupannya. Respons kita ketika berada pada kondisi tersebut akan sangat menentukan apakah kita bisa mengalami karya pertolongan Tuhan, Sang Pengubah Ratapan Menjadi Tarian seperti yang dialami Pemazmur.

Pemahaman

Ayat 2-4       : Apa yang dialami oleh Pemazmur sehingga ia berteriak minta tolong kepada Tuhan? Dan apa yang Tuhan lakukan baginya?

Ayat 5-6        : Apa ajakan Pemazmur kepada orang-orang banyak yang dikasihi Tuhan?  Bagaimana ia menggambarkan karakter Tuhan?

Ayat 7-8        : Pengakuan apa yang Pemazmur sampaikan?

Ayat 9-13      : Perubahan apa yang Pemazmur harapkan dan dipenuhi Allah yang kepadaNya ia berseru?

Beberapa penafsir memperkirakan Pemazmur adalah Daud yang pernah mengalami sakit parah dan Tuhan menjawab teriakan minta tolongnya kepadaNya. Tuhanpun menyembuhkannya. Ada juga beberapa penafsir yang menjelaskan bahwa saat itu Daud kehilangan tujuh puluh ribu orang rakyatnya yang terserang penyakit akibat hukuman Tuhan karena kesalahan yang diperbuatnya (2 Samuel 24).  Entah situasi mana yang menjadi latar belakang mazmur ini, namun yang pasti akhirnya Pemazmur merasakan pertolongan Tuhan. Hal ini nampak dalam respon Pemazmur yang mengajak Umat Allah untuk bermazmur bagi Allah, yang telah mengubahnya dari seorang yang meratap, menjadi seorang menari-nari.

Dalam pergumulannya itu, Pemazmur dapat mengenal Allah lebih dalam, bahwa Dia bukanlah Pribadi yang dikuasai kemurkaan, tetapi Pribadi yang dikuasai kemurahan hati, “sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati” (ay. 6). Pemazmur semakin menyadari bahwa kemurahan Allah – bukan kemurkaan Allah – itulah yang melingkupi kehidupannya.

Refleksi

Apakah aku mampu bersikap seperti Daud ketika sedang berada pada titik nadir kehidupan?

Tekad

Membangun relasi pribadi yang intim dengan Tuhan sehingga aku bisa berharap penuh kepada-Nya, Sang Pengubah ratapan menjadi tarian sukacita.

Tindakan

Pertama, menyediakan waktu khusus untuk mengenalNya secara lebih intim melalui doa dan perenungan pribadi terhadap Firman-Nya. Kedua, sebagai manusia yang diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya, aku bertindak dalam iman sebagai agen-agen perubahan, sesuai kehendak-Nya dan seperti karakter-Nya yang senang mengubah ratapan menjadi tarian sukacita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«