suplemenGKI.com

LAYAK BERIBADAH KEPADA-NYA

Mazmur 15

 

Pengantar
Bagi kita yang sudah pernah melamar suatu bidang pekerjaan, maka kita akan mempersiapkan berbagai data guna mendukung persyaratan yang diajukan. Selain itu kita juga akan mengikuti serangkaian test, seperti psikotest dan wawancara, untuk menentukan apakah kita memenuhi syarat untuk bergabung dengan perusahaan tersebut. Hal itu seringkali dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kualitas kemampuan kita. Jika dinyatakan lolos seleksi, maka kita dapat bergabung dengan perusahaan itu. Berbicara tentang kualitas, hal itu juga berlaku dalam hidup orang beriman.  Secara khusus, kita perlu mengevaluasi kualitas hidup kita agar kita layak untuk beribadah atau bersekutu kepada-Nya.

Pemahaman

  • Ayat 1             : Apa maksud pemazmur, “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
  • Ayat 2-5         : Bagaimanakah kualitas hidup orang-orang yang dianggap layak beribadah kepada Tuhan?

Secara keseluruhan, Mazmur 15 ini menuliskan bagaimana seharusnya kualitas hidup orang beriman kepada Tuhan. Pemazmur mengawalinya dengan pertanyaan, “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” (ayat 1). Di dalam ayat 1 ini, ada 2 kata penting, yakni kata “kemah” dan “gunung-Mu yang kudus”. Kata “kemah”, mengacu pada kemah yang didirikan oleh bangsa Israel ketika mereka berada di padang gurun menuju tanah perjanjian Kanaan. Kemah Suci itu merupakan perlambang kehadiran Allah. Sedangkan “gunung-Mu yang kudus” menunjuk pada gunung Sion, yang di atasnya Bait Allah akan dibangun. Pemazmur memberikan pertanyaan di ayat 1 untuk mengingatkan bangsa Israel agar dapat menjaga kemurnian hidup mereka di hadapan Tuhan. Hal ini dikarenakan mereka telah berulang kali melakukan dosa dan hidup tidak setia kepada Tuhan.

Lalu, bagaimanakah kualitas hidup orang-orang yang dianggap layak beribadah kepada Tuhan? Pemazmur memaparkan bahwa orang yang layak untuk beribadah kepada Tuhan adalah orang yang melakukan keadilan dan kebenaran, yakni mereka selalu berjalan dalam ketetapan dan perintah Allah  (ayat 2), orang yang tidak menyakiti hati sesamanya, yakni mereka yang tidak melakukan kebohongan atas orang lain dan tidak melakukan berbagai macam kejahatan terhadap sesamanya (ayat 3),  orang yang  selalu mengutamakan suara hati nurani yang baik daripada kepentingan duniawi, yakni mereka yang mau menghormati sesamanya dan tidak mengabaikan sesamanya yang dipandang hina (ayat 4), serta orang yang tidak menarik keuntungan terhadap sesamanya (ayat 5a). Barangsiapa yang berlaku demikian, maka ia tidak akan goyah dan dapat menjaga kemurnian imannya, karena ada Tuhan yang menolong hidupnya.

Refleksi
Renungkanlah: Apakah ketika saudara datang beribadah kepada-Nya, telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh? Ataukah beribadah dengan dipenuhi persoalan dengan sesama yang belum terselesaikan, sehingga ibadah itu terasa hambar? Marilah kita memeriksa diri, apakah yang kita lakukan sehari-hari telah memuliakan nama Tuhan atau justru membuat kita menjauh dari-Nya.

Tekad
Tuhan, ajarku untuk dapat menjaga hidupku, agar berkenan kepada-Mu dan menjadi berkat untuk sekelilingku.

Tindakan
Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, aku akan belajar untuk meneruskan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan mengasihi dan melakukan kebaikan bagi sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«