suplemenGKI.com

HIDUP ORANG FASIK vs HIDUP ORANG BENAR

Mazmur 37:1-2, 8-9

 

PENGANTAR
Tidak dapat dipungkiri, siapapun bisa memiliki perasaan marah atau iri hati kepada orang yang berhasil dalam hidupnya padahal diperoleh dengan cara jahat.  Sebab pada kenyataannya ada begitu banyak keluarga yang menikmati kekayaan dalam kefasikannya, sementara orang yang menjalani hidupnya dalam kejujuran dan takut akan Tuhan tidak serta merta bisa menikmati keberhasilan.  Pemazmur sangat memahami hal itu.  Oleh sebab itu, pemazmur mengajak untuk melihat bagaimana sesungguhnya akhir hidup orang yang menikmati keberhasilan dalam kefasikannya.  Mari kita pelajari!

PEMAHAMAN

  • Ayat 1,8: Siapakah orang fasik menurut pemazmur?  Bagaimana pemazmur dengan tegas mengingatkan orang percaya berkaitan dengan kemarahan dan iri hati terhadap orang fasik?
  • Ayat 2, 9: Bagaimana akhir hidup orang fasik dibandingkan dengan orang benar yang berharap kepada Tuhan?
  • Sebagai orang beriman apakah hidup kita mudah tergoda menjadi orang fasik?

Pemazmur mengingatkan agar kita waspada terhadap masalah kemarahan dan iri hati terhadap keberhasilan orang fasik.  Siapakah orang fasik menurut pemazmur?  Di ay.1 pemazmur menuliskan yang termasuk orang fasik adalah ‘orang yang berbuat jahat dan orang yang berbuat curang’.  Itulah orang fasik.  Bukankah mereka bisa menikmati keberhasilan dalam kefasikannya?  Ya, bisa jadi!  Tetapi dengan tegas pemazmur mengingatkan “jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang”.  Selanjutnya ay.8 menegaskan “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan”.  Pemazmur dengan tegas memberi peringatan agar menghindari kemarahan dan panas hati terhadap mereka yang berbuat jahat, curang dan melakukan tipu daya tetapi berhasil dalam hidupnya sebab hal itu bisa membuat hidup orang beriman menjadi sama dengan kehidupan orang fasik.

Lebih dalam pemazmur menegaskan bagaimana akhir hidup orang fasik dibandingkan dengan orang yang berharap kepada Tuhan?  Ay.2 “sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau”.  Hidupnya tidak lagi berguna, bermanfaat, bermakna, berharga bagi sekitar.Yang digambarkan dengan keadaan rumput atau tumbuhan hijau yang ‘lisut’ dan ‘layu’.  Ditegaskan lagi di ay.9 “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkantetapi orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri”.  Orang benar yang berharap kepada Tuhan akan mewarisi negeri, menerima berkat-Nya pada waktu-Nya.  Hidup dalam damai sejahtera di negeri yang Dia sediakan, sedangkan orang fasik hidupnya sia-sia.  Tuhan tidak berkenan atas hidup orang fasik.

REFLEKSI
Dalam hening mari merenungkan: Akhir hidup orang fasik ‘dilenyapkan’ tetapi akhir hidup orang benar yang menanti-nantikan Tuhan ‘mewarisi negeri’.  Bagaimana hidup keluarga kita?

TEKADKU
Tolong aku untuk hidup menanti-nantikan waktu Tuhan, tidak hidup seperti orang fasik yang mudah tergoda melakukan kejahatan atau berbuat curang dalam memperoleh keberhasilan.

TINDAKANKU
Aku mau hidup takut akan Tuhan serta mengusahakan kejujuran dalam pekerjaan dan keluarga.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*