suplemenGKI.com

Amsal 16:1-20

 

“Sikap yang benar ketika berhasil”

Pengantar:
            Setiap orang pasti mendambakan keberhasilan dalam hidupnya, hampir tidak ada orang yang menginginkan gagal dalam hidupnya. Secara umum berhasil identik dengan sukses dan kaya dan menjadi bahagia. Pandangan demikian memang benar karena siapa tidak bahagia kalau ia berhasil dan sukses. Itu sebabnya semua orang berjuang agar hidupnya berhasil agar bisa mengalami kebahagiaan hidup. Bacaan hari ini mengajak kita menyikapi keberhasilan dengan benar agar mengalami kebahagiaan seperti yang Tuhan kehendaki.

Pemahaman:

  1. Apakah yang hendak ditegaskan oleh pengamsal dalam ayat-ayat 1-3, 6-7, 9-10?
  2. Bagaimana menyikapi keberhasilan dan kegagalan dengan benar? (v. 16-20)

Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan modal yang komplit seperti: kepandaian, kemampuan, keahlian, kekuatan dan sebagainya. Modal-modal itu dapat dipergunakan untuk mengembangkan dirinya sehingga berhasil dan berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi pihak lain. Hal yang sering menjadi persoalan serius adalah ketika berhasil kita lupa bahwa itu semua karena ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Maka janganlah ada orang yang menjadi sombong ketika berhasil. Dalam ayat 1 “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada Tuhan”. Pernyataan pengamsal itu menekankan bahwa Tuhanlah sumber dari segala yang ada pada manusia. Dialah yang berkarya dalam jalan hidup manusia sehingga bisa berhasil.

Sebagai orang-orang beriman yang menghayati bahwa keberhasilan adalah dari Tuhan, maka pengamsal mengingatkan agar kita selalu hidup dalam hikmat dan pengertian dari Tuhan, hal itu bukan saja dapat membuat kita mampu bersyukur tetapi juga akan membuat kita mampu menjauhi segala hal yang jahat seperti kesombongan, kecongkakan dan memakai keberhasilan kita untuk merendahkan atau menindas orang lain. Dalam ayat 16-20 pengamsal hendak menegaskan agar apapun posisi kita, seberapa besar keberhasilan kita atau bahkan mungkin ketika kita belum berhasil biarlah kita tetap harus menjadi orang yang rendah hati, penuh pengertian dan hikmat Tuhan, dengan demikian ketika kita berhasil atau belum berhasil atau bahkan gagal sekalipun kita tetap bisa bahagia dan mensyukuri hidup ini.

Refleksi:
Sikap hidup kita sesungguhnya mencerminkan seberapa dalam kita menghayati pengaruh dan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita bersikap rendah hati, penuh hikmat dan berpengertian maka ketika kita berhasil kita akan memuliakan Tuhan melalui keberhasilan atau kesuksesan kita, karena kita sadar bahwa semuanya itu bersumber dari Tuhan.

Tekadku:
Tuhan, ajarkan dan mampukan saya untuk menghayati bahwa Engkaulah sumber keberhasilan saya, sehingga saya dapat memuliakan Engkau melalui apa yang saya miliki.

Tindakanku:
Saya mau belajar menghayati dan memposisikan Tuhan yang terutama dalam hidup saya, sehingga baik saya berhasil maupun gagal itu tidak akan menggeser penghayatan saya tentang keberadaan dan campur tangan Tuhan dalam hidup saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«