suplemenGKI.com

DIBERKATILAH ORANG YANG HIDUP MENURUT FIRMAN TUHAN

Mazmur 119:1-8

 

Pengantar

Mazmur 119 adalah mazmur terpanjang, sekaligus juga menjadi pasal terpanjang di dalam Alkitab. Mazmur ini disusun berdasarkan alfabet Ibrani yang berjumlah 22 huruf dan masing-masing huruf dijadikan sebuah stanza yang terdiri dari 8 ayat. Itulah sebabnya ayat mazmur ini berjumlah 176. Hari ini kita akan merenungkan stanza pertama dari mazmur 119 ini.

Pemahaman

-     Apakah arti kebahagiaan bagi Saudara?
-     Bagaimana karakteristik orang yang berbahagia menurut Pemazmur?

Seruan “berbahagialah” yang digunakan Pemazmur untuk mengawali mazmur terpanjang ini mengingatkan kita pada Mazmur pertama yang dimulai dengan pernyataan tentang betapa berbahagianya orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (Mazm. 1:1-2). Sebagaimana Mazmur 1 dapat dipandang sebagai pembukaan kitab Mazmur, maka Mazmur 119:1-8 ini dapat dilihat sebagai pembukaan Mazmur 119 secara keseluruhan.

Kata “berbahagialah” di sini dapat pula diartikan sebagai “diberkatilah”. Dan di sini Pemazmur menyerukan betapa berbahagianya, atau betapa diberkatinya, orang yang hidupnya tidak bercela. Selanjutnya Pemazmur memberikan gambaran kehidupan orang yang tidak bercela itu sebagai orang yang hidup menurut Taurat TUHAN, yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Allah dengan segenap hati, yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan TUHAN sehingga tidak melakukan kejahatan. Keempat gambaran yang senada ini menunjukkan bagaimana Pemazmur menekankan keterkaitan hidup yang tidak bercela itu dengan Taurat TUHAN. Orang yang diberkati adalah orang yang dengan sepenuh hati berpegang teguh pada firman Tuhan. Hatinya tidak sedikitpun terbagi untuk hal-hal yang lain selain firman Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang berbahagia itu memang mengarahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya.

Pada waktu seseorang mencari Tuhan dengan segenap hatinya, maka secara paralel dia juga tidak akan melakukan kejahatan. Sebab kejahatan berada di “seberang” jalan yang ditunjukkan Allah. Hal serupa juga disampaikan di dalam mazmur pertama, dimana orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan adalah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Pada saat kepekaan kita terhadap dosa menjadi tumpul, pada saat yang sama kita juga tidak lagi dekat dengan Allah. Dengan kata lain pada saat kita mendekat kepada Tuhan, maka pada waktu itu kita menjauh dari dosa.

Refleksi

Seberapa dekatkah hidup kita dengan Allah? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mengintrospeksi diri dengan pertanyaan sebaliknya, seberapa dekatkah hidup kita dengan dosa. Sebab semakin kita akrab dengan dosa, semakin kita renggang dengan Tuhan.

Tekad

Doa: Bapa surgawi tolonglah saya untuk terus mencari Engkau dengan segenap hati saya sehingga tidak lagi ada ruang yang tersisa di dalam hati saya untuk berbuat dosa, amin.

Tindakan

Malam ini saya akan meluangkan waktu secara khusus untuk mengoreksi diri di hadapan Allah, untuk mengenali seandainya ada dosa yang sudah saya perbuat hari ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«