suplemenGKI.com

Rabu, 27 Juli 2011

26/07/2011

Sifat Allah yang Menghiburkan

Mazmur 145:8-21

Hidup di antara manusia yang memiliki sifat-sifat menyakitkan akan membuat kita tertekan, bahkan kadang kehilangan harapan. Dalam menghadapi kenyataan yang demikian ini, patutlah kita merenungkan Mazmur 145:8-21, agar kita dapat memperoleh kekuatan kembali dalam menapaki hari demi hari.

- Untuk menghantar kita pada perenungan hari ini, mari membuat daftar tentang sifat-sifat yang kita harapkan pada diri seseorang dan sifat-sifat yang tidak kita inginkan.

-  Sifat Tuhan yang seperti apakah yang digambarkan Pemazmur dalam bacaan kita hari ini? Apakah Saudara pernah merasakan sifat-sifat itu secara pribadi? Coba kirimkan sebuah sms tentang pengalaman tersebut kepada seseorang. 

Renungan

Dalam Mazmur 145:8-21 ini, Pemazmur menyatakan beberapa sifat Tuhan, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu: [1] Pengasih dan Penyayang, ay. 8-9; [2] Setia dan Adil, ay. 13c-20.

Dalam buku tafsirnya terhadap kitab Mazmur, Barth & Peirera mengatakan bahwa, pengakuan iman dalam Mazmur 145:8 merupakan salah satu pernyataan kesayangan orang Yahudi sesudah pembuangan, dan secara mendalam dinyanyikan oleh Mazmur 103. Israel juga sangat kerap mengakui bahwa Tuhan itu baik. Akan tetapi yang menonjol dari Mazmur 145:9 ialah pengakuan bahwa kebaikan dan kerahiman Tuhan itu tak mengenal batas agama, bangsa, warna kulit dan kedudukan sosial (bnd. Maz. 73:1; 86:5; Nah. 1:7; Rat. 3:25). Dalam Perjanjian Baru, konsep yang sama juga ditegaskan oleh Penulis Injil, di mana dikatakan bahwa Allah menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45).

Sedangkan tentang kesetiaan dan keadilan Tuhan, Pemazmur memberikan penjelasan bahwa Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya. Dengan kata lain, janji Tuhan itu dapat dipegang. Dia adalah Allah yang penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Mengingat sifat Tuhan yang demikian ini, maka kita dapat berharap kepada kasih setia Allah dalam menjalani kehidupan ini. Tidak perlu ada rasa segan, karena kasih setia Tuhan itu telah terbukti dalam tindakan-Nya yang sedang jatuh sehingga tidak dapat berjalan dengan kepala tegak. Pemazmur juga menegaskan bahwa apabila kita berseru kepada-Nya, maka kita tidak akan pernah dikecewakan Allah, yang memberi setiap orang  yang menantikan-Nya makanan pada waktunya.

Keadilan Tuhan juga bukanlah isapan jempol. Bukti keadilan-Nya yang penuh kasih setia adalah ketika Ia tetap memelihara orang yang menderita (Maz. 116:5-6), serta dekat kepada setiap orang yang minta tolong kepada-Nya (ay. 20a), tetapi di sisi lain juga membinasakan orang fasik (ay. 20b).

Percaya kepada Allah yang demikian ini membuat Pemazmur meyakini bahwa semua makhluk, terutama orang-orang yang telah merasakan kasih Allah, akan memuji-muji Allah, memproklamirkan kebesaran Tuhan itu kepada setiap orang. Sebab kerajaan-Nya adalah kerajaan yang meliputi segala waktu dan generasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk orang yang sudah merasakan kasih-Nya? Apakah kita juga memiliki tekad Pemazmur, yang berujar, “Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya” (ay.21).

 =====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«