suplemenGKI.com

HAL KENAL

1 Korintus 8 : 1 – 13     

 

Pengantar
Dalam situasi pandemi Covid-19, kita sering berhadapan dengan polemik (aneka silang/perbedaan) pendapat dan sikap terkait boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan atau diterapkan dalam kehidupan bersama. Polemik pendapat dan sikap ini juga pernah dialami dalam kehidupan Jemaat di kota Korintus, terkait dengan hal makan daging persembahan berhala. Maka mari kita membaca dan memperhatikan surat 1 Korintus 8 : 1 – 13, agar memperoleh pesan yang berhubungan dengan situasi tersebut. 

Pemahaman
Ayat  1 – 3           :  Bagaimana hubungan kasih dan dikenal TUHAN?
Ayat  4 – 6           :  Bagaimana pengenalan kita akan TUHAN?
Ayat  7 – 13         :  Bagaimana pengenalan kita akan sesama?

Dalam ayat 1 bagian akhir disebutkan bahwa “tetapi kasih membangun”, dan di ayat 3 dinyatakan bahwa “tetapi orang yang mengasihi ALLAH, ia dikenal ALLAH”. Hal ini dibandingan dengan pernyataan bahwa: mempunyai (menyangka mempunyai) pengetahuan yang (akan atau dapat) membuat orang menjadi sombong. Ini berarti bahwa ALLAH mengenal (berkenan) kepada orang yang hidupnya mengasihi-NYA (antara lain orang yang tidak bersikap sombong) dan berkenan kepada orang yng mengasihi sesamanya (bersifat membangun), tidak menjatuhkan sesamanya.

Adapun pengenalan yang benar akan TUHAN, dinyatakan dalam ayat 6 bahwa: “namun bagi kita (orang percaya) hanya ada satu ALLAH saja, yaitu Bapa, yang dari pada-NYA berasal segala sesuatu dan yang untuk DIA kita hidup, dan satu TUHAN saja, yaitu TUHAN YESUS Kristus, yang oleh-NYA segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena DIA kita hidup”. Pernyataan ini membawa semacam kebebasan dari adanya larangan untuk makan daging persembahan berhala. Karena sesungguhnya bagi orang percaya berhala itu tidak ada.

Namun pada ayat 7 – 9, terkait polemik makan daging persembahan berhala maka umat TUHAN diajak untuk memperhatikan hal kenal yang lain (selain dikenal ALLAH, dan kenal ALLAH), yaitu kenal sesama, termasuk sesama (saudara seiman) yang hati nuraninya lemah agar tidak menjadi batu sandungan bagi mereka karena kebebasan oleh pengetahuan kita. Dengan penjelasan pada ayat 10 – 12 sebagai berikut: “Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus”. 

Refleksi
Marilah kita mengambil waktu hening sejenak dan merenungkan:

  • Apakah kita telah hidup berkenan kepada TUHAN (hidup dalam kasih, yang berarti tidak sombong)?
  • Apakah kita telah kenal TUHAN dan kenal sesama secara benar? 

Tekadku
Ya ALLAH, jadikan aku tetap hidup dalam pengenalan yang benar akan ENGKAU dan sesamaku. 

Tindakanku
Dalam situasi pandemi, dan juga di waktu selanjutnya, saya akan berusaha hidup makin berkenan kepada TUHAN, dengan tidak merasa sombong dalam menghadapi polemik kehidupan di era new normal.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«