suplemenGKI.com

Ketika Tuhan Dimanipulasi

Mikha 3:9-12 

Pastilah menyenangkan untuk berada dekat dengan Tuhan, seperti yang dikatakan Pemazmur, “Hanya dekat Allah saja aku tenang” (Maz 62:2). Tapi, pernahkah kita memikirkan seberapa dekat kita dengan Tuhan, sehingga kita dapat menyadari seberapa tenangnya kita. Perenungan hari ini menghantar kita untuk menjawabnya.

-  Kejahatan apa saja yang dilakukan oleh para pemimpin Israel? Pernahkah kita melakukan salah satunya?

-   Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kehidupan Saudara? Mengapa Saudara berpendapat demikian? 

Renungan:

Pernyataan “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (ay. 11) sebenarnya adalah pernyataan yang sangat menggelikan, meski nampak mengagumkan. Bagaimana tidak!! Mereka mengatakan bahwa TUHAN ada di tengah-tengah mereka, namun tindakan mereka membuktikan bahwa bagi mereka tidak ada TUHAN di tengah-tengah mereka. Sebab, seandainya ada TUHAN di tengah-tengah mereka, pastilah tidak akan terjadi beberapa peristiwa berikut ini, yaitu:

Pertama, pemimpin yang muak terhadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus (ay. 9). Sebagai pemimpin mereka seharusnya melawan kejahatan, tapi kenyataannya justru merekalah yang menjadi penjahatnya. Kekuasaan yang dipercayakan Tuhan kepada mereka itu dipakai sebagai alat untuk membengkokkan segala yang lurus. Mereka juga tidak segan-segan untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan meski itu harus berarti terjadinya pertumpahan darah.

Kedua, para hakim yang memutuskan hukum karena suap (ay. 11). Para hakim sebenarnya memiliki panggilan yang kudus, yaitu untuk menegakkan keadilan. Ini adalah panggilan untuk menjadi tempat perlindungan bagi orang yang sedang dilanda badai kesewenang-wenangan manusia. Namun kenyataannya para hakim itu malah menerima suap. Dengan menerima suap, keputusan-keputusan mereka tidak lagi netral, mereka akan memandang bulu, dan keadilan diputarbalikkan. Sebab  suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar (Ul. 16:19).

Ketiga, para imam yang memberikan pengajaran berdasarkan uang yang dia terima. Para imam ini memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan Taurat Tuhan kepada setiap umat Allah. Namun, bila para imam ini meminta bayaran, itu menandakan bahwa tidak setiap umat Allah dapat memperoleh pengajaran akan Taurat Tuhan tersebut, yaitu mereka yang tidak sanggup memberikan bayaran yang diminta. Dengan kata lain pengajaran mereka tidak tersedia bagi orang miskin.

Meski kejahatan begitu merajalela, namun mereka tetap yakin bahwa Tuhan tidak akan menghukum mereka, karena Tuhan (Bait Allah) ada di tengah-tengah mereka. Ini adalah pikiran yang picik, sama seperti ketika bangsa Israel yakin pasti akan memenangi peperangan karena kehadiran Tabut Perjanjian (1Sam. 4:1-11). Tanpa sadar kita juga dapat jatuh ke dalam kesalahan yang sama, bila berpikir sudah sedemikian dekatnya dengan Tuhan hanya karena ada begitu banyak simbol keagamaan (termasuk ritual-ritual keagamaan) yang melekat dalam kehidupan kita. Pemikiran semacam ini membuat kita memanipulasi Tuhan, sebab kedekatan kita dengan Tuhan itu sesungguhnya terwujud dalam ketaatan kita kepada Tuhan. Ketika Tuhan dimanipulasi, maka kehidupan kita takkan berarti.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«