suplemenGKI.com

Rabu, 26 Maret 2014

25/03/2014

Mazmur 23:5-6

 

 

Menanggalkan Kegelapan Mensyukuri Kebajikan dan Kemurahan-Nya

 

Pengantar
Mazmur 23 bukanlah mazmur yang asing bagi sebagian besar orang Kristen. Namun banyak di antara kita yang tidak terlalu memperhatikan adanya beberapa gambaran Allah di dalam mazmur ini. kebanyakan orang hanya mengidentikkan Mazmur 23 dengan Tuhan adalah Gembalaku. Mari kita merenungkan Mazmur 23 ini dengan lebih seksama lagi.

Pemahaman
- Kalau Saudara diminta untuk menggambarkan siapakah Allah, gambaran seperti apakah yang Saudara berikan?

- Dalam Mazmur 23:5-6 ini Allah digambarkan sebagai apa?

Setelah menggambarkan Allah sebagai gembala, kini Pemazmur melanjutkan dengan memberikan gambaran Allah sebagai tuan rumah yang menyambut seseorang yang sedang dikejar oleh para lawannya. Penyambutan tuan rumah tersebut sekaligus juga menyatakan kepada para pengejarnya bahwa orang tersebut adalah tamunya sehingga tidak dapat diganggu lagi. Hal ini dapat kita bandingkan dengan pernyataan Lot ketika ia menerima dua orang tamu asing di rumahnya (Kej. 19:1-8). Pada waktu penduduk Sodom hendak mengganggu kedua orang tersebut, Lot berkata, “…jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku”.

Pada waktu Pemazmur diterima sebagai tamu, ia diperlakukan secara luar biasa. Ada hidangan yang disediakan baginya. Penyediaan hidangan ini kemungkinan dalam bentuk pesta, sebagaimana yang diterjemahkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (bnd. FAYH: menyediakan meja perjamuan), apalagi ada pengurapan minyak di sana (bnd. Pkh. 9:8). Sukacita pesta juga nampak dalam penggunaan istilah “pialaku penuh melimpah”. Penuhnya piala tersebut karena piala itu diisi lagi dan diisi lagi dengan anggur sampai berlimpah (bd. Pkh 9:7; Maz. 36:9).

Nampaknya Pemazmur menggambarkan penyambutan Tuhan atas dirinya itu dilakukan di pelataran Bait Allah (bd Ul 16:11,14; 26:11), sebagai wujud kasih-Nya kepada Pemazmur (Yes. 55:1-2; Yoel 2:19; bd. Mat. 8:11; 22:1-4; 26:29). Kasih Tuhan itu tidak hanya terjadi sekali saja dalam satu momen, melainkan berkelanjutan. “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku” demikian kata Pemazmur. Menarik untuk diingat bahwa arti “mengikuti” di sini arti hurufiahnya adalah mengejar. Kalau sebelumnya Pemazmur dikejar-kejar para lawannya, kini ia dikejar-kejar kasih setia Tuhan.

Refleksi
Tuhan telah begitu baik menyambut kawanan domba-Nya dengan penuh kasih. Namun seringkali kita tidak menghargai kebaikan itu. Pandangan mata kita lebih tertuju kepada “para musuh” yang mengejar kita daripada kepada kasih setia-Nya yang terus mengikuti kita.

Tekad
Doa: Tuhan, tolong saya untuk terus belajar bersyukur atas kebajikan dan kemurahan-Mu dalam hidup saya. Amin.

Tindakan
Dalam minggu ini saya akan bercerita kepada minimal 1 (satu) orang tentang kasih setia Allah dalam hidup saya, sebagai wujud upaya belajar fokus kepada kasih setia Allah yang terus mengikuti saya.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«