suplemenGKI.com

CERMAT SEBELUM BERBUAT

Yakobus 1:17-27    

 

Pengantar
Dalam beribadah, kita sering berfokus pada hal formalitas dan rutinitas, sehingga kadang kita tak bisa menghayati sebuah kebenaran, apalagi mewujudkannya. Seperti misalnya, pada setiap hari Minggu kita menganggap telah menghadap TUHAN dan beribadah kepada-NYA karena pergi ke rumah TUHAN, tapi ternyata hal yang formal dan rutin itu tidak membawa atau memperjumpakan kita dengan TUHAN dan kehendaknya. Dalam surat Yakobus 1 : 17 – 27, kita diajak untuk lebih mencermati segala sesuatu yang akan kita perbuat, karena ini berkenaan dengan hal mengerjakan kebenaran dan beribadah yang murni di hadapan ALLAH. 

Pemahaman
Ayat 17 – 21  :  Apa yang dimaksud dengan mengerjakan kebenaran di hadapan ALLAH?
Ayat 22 – 27  :  Apa yang dimaksud dengan ibadah yang murni di hadapan ALLAH?

Dalam ayat 20 dinyatakan bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan ALLAH. Sesungguhnya ini mau memperbandingan antara hal kemanusiaan (amarah manusia) dan hal keilahian (kebenaran di hadapan ALLAH). Hal kemanusiaan itu cenderung tidak terkendali secara baik, dan hal keilahian itu cenderung terkendali oleh kebenaran yang mana memerlukan penerimaan yang lemah lembut sebagaimana dinyatakan dalam ayat 21.

Penerimaan akan firman kebenaran secara lemah lembut (perlahan) yang kemudian tertanam di dalam hati itulah yang menyelamatkan jiwa. Sikap tergesa-gesa, yang digambarkan dengan proses bercermin secara cepat, dan menganggap bahwa dirinya telah beribadah bisa membuat seseorang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan ALLAH. Kata menganggap ini dapat dipahami sebagai (baca: mewakili) sikap tidak cermat, karena melihat atau menilai sesuatu secara cepat-cepat (terburu-buru).

Dan pada ayat 27 diperlihatkan bahwa ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan ALLAH itu ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. Kebenaran yang diperlihatkan ini harus dicermati, dan itu hanya mungkin terwujud jika kita bersedia mendengar terlebih dahulu dan lambat untuk bereaksi, termasuk dalam berkata-kata. Kepedulian bagi mereka yang lemah dan pengendalian diri (kekudusan hidup) adalah wujud ibadah yang murni dalam rangka mengerjakan kebenaran di hadapan ALLAH.

Refleksi
Marilah kita mengambil waktu hening sejenak dan merenungkan:

  • Apakah kita cenderung cepat bereaksi daripada introspeksi diri?
  • Apakah kita telah melakukan ibadah yang murni, yang didasari kesediaan mendengar secara lebih cermat sebelum berbuat? 

Tekad
Ya ALLAH, jadikan aku sebagai pribadi yang hidup dalam pengendalian diri, dalam wujud sikap hidup yang cermat akan firman-MU. 

Tindakanku
Dalam segala musim kehidupan, saya akan untuk tetap berusaha mengerjakan kebenaran di hadapan TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«