suplemenGKI.com

Mazmur 112:4-9.

 

Kenikmatan Hidup Sebagai Orang Benar.

Pengantar:
Banyak orang senang berbicara tentang kenikmatan hidup. Pada umunya orang berpikir bahwa yang dimaksud dengan kenikmatan hidup itu berhubungan dengan: hidup sehat, hidup berkelimpahan harta-benda dan uang, keluarga sakinah (segala sesuatu yang riil) Itu sebabnya setiap orang kemudian akan memperjuangkan kenikmatan itu dengan segala upaya dan perjuangannya. Ketika orang menghayati kenikmatan itu hanya sebatas hal-hal yang riil, maka ketika kenikmatan itu tidak berhasil diraihnya, ia akan memposisikan dirinya sebagai orang yang gagal, orang yang tidak beruntung, orang yang terpuruk dan yang lebih parah ia merasa bahwa dirinya orang yang paling tidak diberkati Tuhan.

Pemahaman:

  1. Apa maksud pemazmur dalam ayat 4?
  2. Bagaimana pemazmur menggambarkan orang yang memiliki kenikmatan hidup? V. 6-8.
  3. Bagaimana sikap orang yang memiliki kenikmatan hidup sebagai orang benar ! V. 5, 9.

Pemazmur paham betul bahwa hidup ini tidak selamanya indah, tidak selamanya menyenangkan, tidak selamanya sukses. Adakalanya menderita, susah, kurang beruntung dan sebagainya. Tetapi situasi demikian tidak sampai merebut kenikmatan hidup pemazmur. Hal itu diungkapkan dalam kalimat “Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar” Pemazmur menghubungkan kenikmatan itu dengan hidup yang benar, yang dijabarkannya dengan sifat: pengasih, penyayang dan keadilan. Pengasih, penyayang dan adil adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yg hidupnya benar di hadapan Tuhan.

Bagi pemazmur, kenikmatan hidup itu adalah sesuatu yang permanen, tidak terpengaruh oleh situasi dan keadaan riil. Perhatikan ayat 6-7, bagian itu menggambarkan bahwa segala gangguan, godaan dan intimidasi bisa saja muncul, namun tidak bisa merebut kenikmatan hidup, karena hatinya teguh berpegang pada kepercayaan kepada Tuhan.

Pemazmur juga menunjukkan bahwa orang yg memiliki kenikmatan hidup, adalah orang yang suka berbagi kepada sesama (v. 4, 9) Ia berbagi bukan karena hidup sudah berkelimpahan harta, tetapi dalam situasi kekuranganpun bisa berbagi kepada sesama. Berbagi dilakukan karena dorongan belas-kasihan kepada sesama. Dan ketika melakukan berbagi ia tidak merasa akan kekurangan atau merasa rugi (lih. v. 9 “..tanduknya meninggi dalam kemuliaan”) Suatu penghayatan: tidak ada kekuatiran bahwa karena berbagi maka akan berkurang atau habis miliknya. Pemazmur sangat menghayati semua miliknya itu adalah berasal dari Tuhan, maka berbagi kepada sesama adalah membagi kasih Tuhan bagi sesama.

Refleksi:
Maukah saudara mengalami kenikmatan hidup? belajarlah dari pemazmur yang menaruh harapannya kepada Tuhan sang sumber kenikmatan hidup yang sejati.

Tekad:
Tuhan, ampuni aku karena selama ini terlalu mengejar sumber kenikamatan duniawi.

Tindakkan:
Aku akan mulai untuk mejadikan anugerah kebenaran Tuhan sebagai sumber kenikmatan hidup yang sejati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*