suplemenGKI.com

Yeremia 15: 10-21 (lanjutan)

YEREMIA : MENGUBAH RATAP MENJADI BERKAT

PERTANYAAN PENUNTUN PEMAHAMAN ALKITAB

1. Dari seluruh bacaan hari ini tentang keluhan nabi Yeremia, ayat-ayat mana yang menurut saudara tidak seharusnya diucapkan oleh nabi Yeremia?

2. Ayat 19: Teguran apa yang Tuhan berikan kepada nabi Yeremia tersirat dalam ayat ini?

3. Nasihat/ajaran/ajakan apa yang juga bisa Anda tangkap dari ayat 19 ini?

4. Dengan demikian, apa yang harus dilakukan orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan ketika sedang menghadapi kesulitan dalam pelayanan?

RENUNGAN

Apa yang dikatakan oleh nabi Yeremia bukan lagi sebuah keluh kesah, tetapi juga ada sedikit penyesalan akan jalan hidupnya. Hal ini terbaca pada saat ia berkata, “Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negri.” Dia merasa bahwa jalan hidupnya begitu susah dan ia merasa tidak seharusnya ia dilahirkan. Yeremia sedang meratapi dirinya. Kesulitan yang dihadapi nabi Yeremia dalam tugas kenabiannya rupanya terasa begitu menekan sehingga nabi Yeremia menjadi begitu putus asa dan kata-katanya berubah menjadi kata-kata sia-sia.

Tuhan Allah menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh hambaNya ini. Tuhan mengerti betul isi hati hambaNya, namun Tuhan punya cara tersendiri untuk membangkitkan hambaNya yang sedang loyo ini. Tuhan menegur dengan cukup keras apa yang Yeremia lakukan. Keinginan untuk mundur dari tugasnya, kata-kata yang tidak lagi menjadi berkat, semuanya diperhatikan oleh Tuhan. Karena itu Tuhan menegur dan menegaskan bahwa jika Yeremia tetap seperti itu, ia tidak akan bisa melayani Tuhan. Jika kata-katanya hanya keluhan dan penyesalan, Tuhan tidak akan bisa memakainya menjadi penyambung lidah Tuhan alias pemberita firman Tuhan.

Perkataan Tuhan di ayat 19 sekaligus mengandung ajakan kepada nabi Yeremia dan juga kita sekalian untuk tidak terus menerus mengeluh dan meratap ketika tantangan dalam melayani Tuhan itu mulai bermunculan. Keluhan dan ratapan tidak akan menjadi berkat. Tuhan mengajak kita untuk tetap setia, maju terus dalam melayani Tuhan, serta tetap menggunakan lidah bibir kita untuk mengucapkan firman, meski kita sedang dilanda kesulitan. Sikap seperti itulah yang Tuhan kehendaki ada tertanam dalam diri setiap orang yang melayaniNya. Jika kita sebagai hamba-hambaNya merasa bahwa lidah bibir kita lebih banyak mengeluarkan keluhan, ratapan, hal-hal yang negatif, kita perlu segera menghentikannya dan mengambil sikap yang baru supaya kita bisa terus dipakai Tuhan melayaniNya. Sama seperti pengalaman nabi Yeremia, janganlah memelihara dan menyuburkan keluhan, ratapan dalam melayani Tuhan, sebab Tuhan bisa mencabut kepercayaannya kepada kita jika ternyata kita tidak menjadi berkat melainkan batu sandungan.

Hamba yang tulus melayani Tuhan akan mengecilkan keluhan-keluhannya dan membesarkan karya pelayanannya, bukan membesarkan keluhan dan mengecilkan karya pelayanannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*