suplemenGKI.com

Rabu, 23 Maret 2016

22/03/2016

Menaikan Nyanyian Syukur Bagi Sang Batu Penjuru

Mazmur 118:1-24

 

Pengantar

Batu penjuru adalah batu besar yang diletakkan pada sudut pondasi bangunan. Batu ini menghubungkan bagian ujung tembok dengan tembok sebelahnya, sehingga keduanya menyatu (Baca: Efesus 2:20-21).  Tuhan Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru melalui karya pengorbananNya di atas kayu salib, telah mempersatukan kita kembali dengan Allah Bapa dan sesama saudara kita.

Atas dasar keyakinan, bahwa Allah melalui Tuhan Yesus Kristus telah melepaskan kita dari semua beban dosa, dan pertolonganNya sungguh pasti di tengah kesesakan kita, maka menaikkan pujian pada saat mengalami kesesakan adalah ciri khas orang Kristen.

Pemahaman

Ayat 1-4      :Mengapa Pemazmur mengajak untuk bersyukur?

Ayat 5-18   :Apa yang sedang dialami oleh Pemazmur?

Ayat 22-24:Siapa yang dimaksudkan oleh Pemazmur sebagai “batu yang dibuang telah menjadi Batu Penjuru”?

Menurut tradisi, Mazmur 118 ini merupakan salah satu dari mazmur yang dinyanyikan dalam rangkaian Paska Yahudi. Ada 3 (tiga) peristiwa besar yang menjadi landasan ungkapan syukur dalam mazmur ini, yaitu: [a] ay. 5-9, yang menceritakan tentang bagaimana Pemazmur ditolong Allah keluar dari kesesakan hidupnya; [b] ay. 10-12, yang berbicara tentang seorang raja dan panglima dikepung bangsa-bangsa tetapi dengan pertolongan Tuhan mereka semua dipukul mundur; [c] ay. 13-18, yang mengisahkan bagaimana Allah menolong Pemazmur yang ditolak, didorong sampai jatuh serta tidak dapat bangkit kembali.

Semua pengalaman yang luar biasa itu membuat Pemazmur mengajak menyadari bahwa Tuhan itu baik. Kasih setia Tuhan kekal selama-lamanya. Atas dasar kesadaran tersebut, Pemazmur mengajak seluruh bangsa Israel, mulai dari “kaum Harun” – yang mewakili umat Allah dari sononya – sampai dengan “orang yang takut akan TUHAN” – yang mewakili mereka yang tidak terlahir sebagai orang Yahudi namun mengakui Yehova sebagai Allah sesembahan mereka.

Dalam ayat 22-24, ketidak berdayaan Pemazmur yang remuk redam dalam menghadapi hidup ini digambarkan sebagai batu yang dibuang tukang bangunan karena dianggap sebagai batu yang mudah hancur. Tetapi Tuhan mengambil batu tersebut serta memakainya sebagai batu penjuru.

Refleksi

Apakah aku mampu menaikkan nyanyian pujian syukur sekalipun aku sedang mengalami kesesakan?

Tekad

Senantiasa menjadikan nyanyian syukur dan pujian sebagai ungkapan hatiku yang penuh kemenangan dalam Kristus yang telah bangkit.

Tindakan

Mengganti “keluhan” dengan “nyanyian syukur dan pujian” ketika aku sedang mengalami masalah dalam kehidupan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«