suplemenGKI.com

IKUTI TELADAN-NYA

Matius 17:24-27

 

Pengantar
Dalam akronim Jawa, sebutan guru adalah digugu lan ditiru, atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai orang yang pantas untuk dipercaya dan diteladani. Peranan seorang guru sangatlah besar, karena ia dianggap mampu membimbing para siswa untuk belajar menggapai masa depannya. Saudara, selama masih berada di dunia, Yesus adalah Guru yang sangat baik bagi para murid. Ia banyak memberikan teladan hidup, maka tak heran jika ia sangat disegani. Salah satunya adalah bacaan kita pada hari ini.

Pemahaman

  • Ayat 24-25a  : Bagaimanakah respon Petrus ketika pemungut bea Bait Allah datang menemuinya?
  • Ayat 25b        : Mengapa Yesus bertanya kepada Petrus tentang pajak?
  • Ayat 27          : Apa perintah Yesus kepada Petrus berkaitan dengan pajak?

Ketika Yesus dan para murid ke Kapernaum, seorang pemungut bea Bait Allah datang kepada Petrus untuk bertanya apakah Yesus tidak membayar bea dua dirham (ayat 24). Bea yang dituntut ini bukanlah bayaran rakyat kepada pemerintah Romawi, yang dengan ketat dituntut oleh para pemungut cukai. Bea yang diminta adalah pajak bagi Bait Allah, yang banyaknya setengah syikal, atau dua dirham, yang dituntut dari setiap orang atau setiap ibadah di dalam Bait Allah, dan itulah biaya yang dikeluarkan untuk ibadah di sana. Kewajiban membayar bea atau pajak ada sejak jaman Musa, untuk perbekalan rumah Tuhan.

Petrus menjawab pemungut bea Bait Allah dengan berkata bahwa Yesus akan membayarkannya (ayat 25a). Setelah bertemu Yesus kembali, Petrus mendapatkan pertanyaan dari Yesus mengenai apa yang telah terjadi. Yesus pun mengajukan pertanyaan dengan mengenai pajak yang dibebankan oleh pemerintah dunia ini. Yesus memberikan contoh mengenai raja-raja di bumi yang menarik bea apakah dari orang-orang asing, dari kerajaan-kerajaan yang takluk di bawah mereka, ataukah dari rakyat sendiri. Seharusnya Yesus tak perlu membayar bea tersebut karena Ia adalah Anak Allah. Namun, Yesus tidak ingin perkara tersebut menjadi batu sandungan (ayat 27). Jika Dia menolak untuk membayarnya, maka akan menjadi perbincangan di kalangan pemuka agama dan orang banyak akan menjauhi-Nya. Oleh karena itu Ia menyuruh Petrus untuk memancing dan membuka mulut ikan yang pertama kali ditangkapnya, maka ia akan menemukan mata uang 4 dirham di dalam mulutnya. Dan dengan uang itulah, pajak dibayarkan. Melalui perikop ini kita diajar untuk meneladani sikap Yesus yang dengan rendah hati tetap menghormati pemerintahan.

Refleksi
Yesus adalah Anak Allah, namun Ia mau melepaskan hak keistimewaan-Nya untuk mau menghormati pemerintahan yang ada. Hal itu pula yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada begitu banyak peraturan yang telah diberikan agar masyarakat dapat tertib dan disiplin dalam menjalani kehidupannya. Mari kita renungkan: Mengapa masih ada masyarakat yang tidak mematuhi aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah? Saudara, pemerintah pun memiliki kekurangan dan kelebihan dalam menjalankan tanggungjawabnya. Namun, kekurangan yang ada dalam diri mereka seharusnya bukan menjadi penghalang bagi kita untuk tetap menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tekadku
Tuhan, ampunilah bila selama ini aku terlalu abai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Tindakanku
Aku akan belajar untuk meneladani sikap Yesus yang rendah hati untuk menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan mentaati aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, yaitu: …. (sebutkanlah aturan yang akan saudara belajar untuk patuhi).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«