suplemenGKI.com

HIDUP BAGI KEMULIAANNYA

Yohanes 12: 25-26

Yesus sedang memberitakan mengenai misi kedatanganNya, yaitu menebus hukuman atas dosa umatNya dengan kematianNya. Melalui pemberitaanNya, Yesus sedang mempersiapkan para pengikutNya agar kelak ketika melihat penderitaan Yesus, mereka mengerti bahwa itu adalah penggenapan rencana Allah atas hidup mereka. Dan Yesus tidak hanya menginginkan mereka mengerti, tetapi juga agar mereka bisa menerima dan menikmati kasih karunia Allah yang diberikan kepada mereka. Karena itulah, dua ayat bacaan hari ini merupakan tuntunan yang Yesus berikan agar setiap pendengarnya dapat merasakan kasih karunia Allah.
1. Ayat 25: Apa arti ‘mencintai nyawa’ dan ‘tidak mencintai nyawa’ dalam ayat ini bila konteksnya adalah seperti penjelasan di atas?
2. Berdasarkan arti tersebut, bagaimana cara seseorang dapat menikmati kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus?
3. Ayat 26: Bagaimana langkah konkrit atau ciri-ciri dari hidup yang ‘tidak mencintai nyawa’ sendiri? Jelaskan ayat ini menurut pemahaman Anda sendiri.

Renungan
Ayat-ayat ini bukan dipahami sebagai dukungan untuk orang-orang yang tidak menghargai hidupnya, merusak diri sendiri sebagai suatu cara hidup yang benar. Ini sudah pasti bertentangan dengan Allah dan tujuan penciptaan itu sendiri. Mencintai nyawa di sini berarti mencintai segala keinginan diri sendiri yang tidak peduli dengan urusan dosa atau tidak, hidup mengikuti jalannya sendiri dan sesuka hatinya, entah itu merusak atau membangun sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan. Orang yang mencintai nyawa seperti itulah yang pada akhirnya tidak akan bisa menerima kasih karunia Allah. Sebab bagi mereka, hidup dan segala kesenangan dosanya itu yang paling penting dan diperjuangkan dalam hidupnya. Mereka tidak merasa membutuhkan keselamatan dari Allah. Sehingga benar perkataan Yesus bahwa jika hidup seperti ini yang orang pilih, maka orang tersebut akan kehilangan nyawa, atau kehidupan yang sesungguhnya. Hanya orang-orang yang mau menyangkali segala keinginannya yang sia-sia dan berdosa, pada akhirnya akan dapat mengalami kasih karunia Allah, sebab mereka tahu apa yang paling mereka butuhkan dalam hidup mereka. Pernyataan Yesus ini serasi dengan teladan hidup Yesus sendiri yang sudah kita renungkan kemarin, bahwa kemuliaan hidupnya diwujudkan dalam ketaatan dan ketundukan pada BapaNya, melalui kelemahan dan perendahan diri dalam penderitaanNya sebagai manusia. Ini bukan saja menjadi prinsip Yesus, tetapi juga prinsip hidup semua orang yang ingin mengikut-Nya.
Dan sebagai konsekuensi logis dari hidup yang tidak ‘mencintai nyawanya sendiri’ adalah sebuah pengabdian kepada Allah dengan melayani. Melayani Allah adalah bentuk penyangkalan diri dan sekaligus respon atas karunia Allah yang sudah menyelamatkan kita. Jika menyebut diri sebagai pengikut Kristus, sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia Allah, tetapi tidak bersedia memberi diri melayani Allah, tidak bersedia mengendalikan keinginan-keinginan yang jahat, egois, dll, maka mungkin sudah saatnya memeriksa kembali penghayatan dan iman kita kepada karya Kristus.

Hanya dengan mati terhadap diri sendiri, baru kita dapati hidup bagi Allah

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«