suplemenGKI.com

Rabu, 21 April 2021

20/04/2021

IKUT JALAN PENGERTIAN

Amsal 9:1-6

 

Pengantar
“Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ‘ku tetap mendengar dan mengikut-Nya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga ‘ku mengikut-Nya!” Lagu tersebut merupakan penggalan dari Kidung Jemaat 370, “Ku Mau Berjalan dengan Jurus’lamatku”, yang juga populer di seluruh dunia. Amsal pada hari ini juga akan menuntun kita untuk semakin giat mengikut-Nya.

Pemahaman

  • Ayat 1-3               : Bagaimana penulis Amsal menggambarkan tentang kehadiran hikmat?
  • Ayat 4-6               : Bagaimana cara hidup orang yang telah membangun hikmatnya?

Kitab Amsal merupakan kitab yang berisi hikmat dengan sebagian besar dituliskan oleh Salomo. Amsal mengajak setiap pembacanya untuk hidup dengan bijaksana dan benar. Amsal dituliskan untuk dapat memberi pengertian tentang perilaku hidup yang bijak, adil, serta jujur (Ams.1:2-3), sehingga setiap pembacanya mendapat pencerahan untuk hidup dalam kebenaran. Amsal juga mengarahkan pembacanya untuk selalu takut akan Tuhan. Amsal juga dipenuhi oleh kekuatan melalui nasihat atau ajaran, serta ajakan-ajakan untuk meninggalkan perilaku yang tidak berkenan dan melakukan tindakan-tindakan yang benar. Keseluruhan pasal 9 membandingkan hikmat yang benar dengan tindakan-tindakan yang dipenuhi kebodohan, yang bisa terjadi karena adanya kemalasan, keegoisan, dan keserakahan manusia.

Amsal 9 dimulai dengan penggambaran bahwa hikmat yang ada di dalam kehidupan setiap manusia ibaratnya seperti sedang membangun rumah dan menegakkan tiang-tiangnya. Bagi mereka yang dengan setia membangun hikmat dalam hidupnya, maka hidupnya pasti semakin terarah pada kebenaran. Bagi mereka yang memilih untuk meninggalkan hikmat, maka “tiang-tiang hikmat” tersebut tidak akan kuat atau kokoh. Hikmat sungguh-sungguh hadir di dalam kehidupan setiap manusia. Hikmat membangun rumahnya, sekaligus membuka jalan bagi pengertian untuk dapat masuk ke dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, setiap orang yang setia membangun hikmat maka akan semakin mendapatkan pemahaman tentang yang baik dan benar.

Hikmat sering dikaitkan dengan kepandaian. Akan tetapi, ayat keempat justru menunjukkan yang sebaliknya. Hikmat tidak bersifat eksklusif atau terbatas hanya untuk kalangan yang pandai secara pengetahuan. Hikmat juga hadir bagi siapa saja yang ingin membuka dirinya untuk mendapatkan berbagai pencerahan hidup. Bahkan pada ayat kesepuluh dinyatakan, “permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (Ams.9:10)”. Hikmat justru hadir bagi mereka yang merasa tak berpengalaman di dalam hidup, dan yang mau membuang kebodohan atau kebiasaan hidup yang berfokus pada kepuasan diri sendiri. Dengan demikian, yang paling utama adalah keinginan untuk membuka hati untuk menerima hikmat dan juga memberi diri untuk membangun hikmat yang pada akhirnya akan membuka jalan bagi pengertian.

Refleksi
Dalam hidup beriman, yang kita butuhkan bukan hanya soal kepandaian secara kognitif (pengetahuan). Kita juga membutuhkan hikmat. Hikmat menolong kita untuk membedakan hal-hal yang baik, benar, dan tepat untuk kita lakukan sepanjang kehidupan. Hikmat menolong kita untuk semakin terarah pada kebenaran. Lebih dalam lagi, hikmat menolong kita untuk semakin mengerti dan memahami maksud dan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita. Dalam banyak hal, kita masih sulit untuk memberi tempat bagi hikmat bertumbuh di dalam hati dan pikiran kita. Hikmat yang mengarahkan kita pada Sang Jalan Kebenaran akan memampukan kita untuk dapat hidup secara baik dan benar di dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan, atau hidup bermasyarakat. Marilah kita mulai mengatur diri kita bukan hanya menggunakan kepandaian yang kita miliki, tetapi juga menggunakan hikmat yang Tuhan beri di dalam kehidupan kita! 

Tekadku
Tuhan, kami berterima kasih atas hikmat yang selalu Engkau beri untuk menuntun kami dalam kehidupan setiap hari. Bantulah kami agar kami selalu ikut dalam jalan pengertian yang baik dan benar melalui hikmat yang Engkau beri.

Tindakanku

Mulai hari ini, saya berusaha untuk:

  1. Membuang satu tindakan yang tak berhikmat yang masih sering saya lakukan.
  2. Saya akan mencatat setiap perbuatan baik, atau tindakan yang penuh hikmat Tuhan, yang saya lakukan pada hari ini.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«