suplemenGKI.com

2 Timotius 4:6-18

”Tetap Tegar Meski Hidup Begitu Sukar”

Bagaimana reaksi kita saat kita berada dalam himpitan/tekanan/pergumulan besar yang membuat kita menjadi sangat takut? Ada banyak orang yang dengan serta merta mencari cara ”apapun” asal menghindarkannya dari jerat persoalan yang berat. Bahkan acapkali orang Kristenpun bisa nekat mencari jalan lain di luar TUHAN demi mendapat rasa aman. Memang tak ada jaminan bahwa anak TUHAN akan selalu mulus jalannya. Namun, saat jalan begitu terjal, seharusnya kita belajar dari pengalaman hidup Rasul Paulus.

Þ    Dalam situasi seperti apakah ketika Paulus menuliskan suratnya kepada Timotius ini? (ayat 6)

Þ    Diibaratkan dengan apakah perjalanan hidup yang dilalui oleh Paulus, sehingga melalui pengibaratan itu Paulus terlihat tetap bersemangat menjalani hidupnya? (ayat 7)

Þ     Pengharapan seperti apakah yang bisa membuat kita tetap kuat dan tabah menjalani berbagai problema kehidupan? (ayat 8-18)

Renungan:

Sejak pertobatannya, Paulus benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan TUHAN. Namun, sebagai pekabar Injil yang sangat berani dan dipakai TUHAN dengan luar biasa, itu tidak lantas membuat Paulus mengalami perjalanan hidup yang serba mulus. Justru karena Injillah Paulus menghadapi penganiayaan besar. Saat dia menuliskan suratnya kepada Timotius ini, dia sedang menjalani hidup seorang diri dan menunggu dijatuhkannya hukuman mati (ayat 6). Sungguh suatu keadaan yang ironi, seorang yang mengabdikan diri bagi pekerjaan TUHAN malah menghadapi penderitaan. Tapi Paulus tidak pernah memandang penderitaan karena Injil sebagai sebuah tragedi buruk dalam hidupnya. Hasil pengenalannya yang mendalam terhadap ALLAH yang dilayaninya membuat Paulus sanggup bersikap positif manakala hal yang negatif menimpa hidupnya. Teladan apa saja yang bisa kita pelajari dari Paulus melalui 2 Timotius 4:6-18 ini?

  1. Paulus melihat bahwa hidup di dunia ini ibarat sebuah pertandingan untuk mendapatkan kemuliaan Sorgawi. Paulus sadar bahwa kemuliaan Sorgawi itu hanya dapat diraih ketika dia menjalankan hidup dengan cara-cara Sorgawi. Paulus juga yakin bahwa dirinya telah melakukan praktek-praktek Sorgawi dalam menjalankan hidup dan pelayanannya. Itu sebabnya dia tidak menjadi takut dan gentar manakala penderitaan menekannya hingga di ujung kematiaannya (ayat 7).

Bukankah cara hidup yang sedemikian yang seharusnya kita teladani, sehingga seperti halnya Paulus, kitapun akan tetap berjalan dalam iman yang tak tergoyahkan meskipun persoalam hidup berlomba menggoyahkan kita.

  1. Bagi Paulus tak ada yang perlu ditakutkan dalam menghadapi goncangan penderitaan dalam dunia ini. Terutama ketika penderitaan itu muncul karena ulah orang-orang yang berusaha menggoyahkan imannya kepada Kristus. Yang menjadi pegangan kuat bagi Paulus sehingga dia tetap fokus menjalani hidup yang penuh iman kepada ALLAH ialah karena dia memiliki pengharapan yang teguh. Pengharapan Paulus itu dinyatakannya dalam ayat 18 ketika dia dengan tegas dan yakin mengatakan bahwa ALLAH telah menyediakan KerajaanNya yang mulia bagi orang-orang yang tetap menjaga dengan konsisten iman percayanya kepada ALLAH Bapa.

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tujuan akhir hidup kita adalah meraih hidup kekal bersama ALLAH Bapa di Sorga. Keyakinan seperti itu akan memberikan pengharapan yang kuat kepada kita saat kita berada dalam situasi hidup yang berusaha menggoyahkan iman kita.

”Hidup sukar di dunia ini tak akan mampu menggoyahkan iman kita,

jika Kerajaan ALLAHlah yang sungguh-sungguh kita kejar”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«