suplemenGKI.com

Rabu, 20 Juli 2011

19/07/2011

Mazmur 119:129-136

Merindukan TUHAN

 Mazmur 119 tergolong pada mazmur kebijaksanaan.  Di dalamnya tertulis suatu renungan tentang Taurat/ketetapan-ketetapan TUHAN yang dipandang sebagai anugerah yang paling berharga.   Pengagungan Taurat dalam mazmur ini menjadi cerminan kerinduan pemazmur akan TUHAN.

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Bagaimana pemazmur menghayati fungsi Taurat bagi hidup manusia? (ayat 129-130)
  2. Bagaimana pemazmur mengekspresikan kerinduannya akan Taurat? (ayat 131, 132)
  3. Bagaimana pemazmur mengungkapkan pengharapannya akan Taurat? (ayat 133-134)

 RENUNGAN

Rindu merupakan ekspresi perasaan yang dengan sangat menginginkan untuk bertemu.  Misalnya, seperti seorang ayah yang selama beberapa bulan pergi berlayar.  Meskipun dia tahu saatnya akan tiba untuk pulang, tapi perasaannya yang rindu, seolah tidak mampu ia tahan untuk segera bertemu keluarganya. Demikian juga ungkapan kerinduan pemazmur terhadap TUHAN yang terungkap melalui rangkaian pujian dalam bacaan kita. 

 Pemazmur merindukan TUHAN bukan karena sudah lama tidak membaca firman, tetapi karena pemazmur telah merasakan indahnya persekutuan dengan TUHAN melalui firman yang ia baca.  Itu sebabnya pemazmur tidak ragu untuk mengatakan, “itulah sebabnya jiwaku memegangnya” (ayat 129).  Pemazmur juga mengungkapkan kekagumannya terhadap firman TUHAN yang ajaib, yang memberi terang terang (simbol kemuliaan, kehadiran TUHAN dan petunjuk) dan yang memberi pengertian kepada orang-orang bodoh (dalam bahasa aslinya berarti orang-orang yang belum berpengalaman).  Wajar bila kemudian, pemazmur begitu rindu untuk hidup di dalam kebenaran firman TUHAN itu.

 Di ayat 132-136, pemazmur juga mengungkapkan keadaannya yang merasakan tekanan dan pemerasan dari orang-orang yang tidak berpegang pada taurat TUHAN.  Bagi pemazmur, mereka senantiasa bertindak jahat dan merongrong kehidupannya, hingga pemazmur merasakan kesedihan yang mendalam (ayat 136).   Di tengah keterbatasannya dalam menghadapi tantangan tersebut, pemazmur hanya berharap pada janji dan kasih setia TUHAN.  Harapan pemazmur diungkapkan  dengan jelas melalui rangkaian frasa “berpalinglah . . . teguhkanlah . . . bebaskanlah . . . sinarilah hambaMu dengan wajahMu” (ayat 132-135).  Pemazmur mengerti bahwa kuasa TUHAN jauh melebihi orang-orang jahat dan jikalau ia tetap berpegang pada firman TUHAN, ia dapat menang melawan orang-orang jahat tersebut.  Oleh karena itu, pemazmur bersedia untuk selalu belajar firman TUHAN, dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya.

 Ada banyak hal dalam kehidupan yang berpotensi menggeser TUHAN dalam hati kita.  Kesibukan, kebiasaan, persoalan, kebutuhan hidup, pekerjaan, prestasi dan lain-lain.  Bahkan pelayanan itu sendiri.  Apa yang kita gumulkan seolah menjadi lebih penting daripada TUHAN.  Pepatah mengatakan, “Seberapa penting seseorang bagi kita, dapat dilihat dari seberapa sering kita membicarakannya.”  Mungkin seperti itulah hati pemazmur, yang mengajarkan kepada kita betapa pentingnya TUHAN dan firmanNya dalam kehidupan.  Tidak ada yang mampu memuaskan kerinduan pemazmur, selain hanya TUHAN yang ia alami ketika membaca dan merenungkan firmanNya, hari lepas hari.

 Seberapa penting TUHAN dalam hidup seseorang, dilihat dari seberapa rindu ia datang kepadaNya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • David Marpaung says:

    Syalom Bapak n Ibu minta tolong dikirim in renungan singkat kalau berkenan.
    Demikian, atas perhatian dan perkenannya kami menyampaikan terima kasih

    Salam, David Marpaung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*