suplemenGKI.com

1 Korintus 7:29-31

KELUARGA ATAU PELAYANAN?

PENGANTAR

Label “melayani Tuhan” menempatkan kegiatan gerejawi sebagai hal yang penting dan harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab.  Namun, keterlibatan dalam kegiatan gerejawi akan menimbulkan masalah apabila dilakukan dengan mengorbankan tanggung jawab atas keluarga. Bagaimana kita menghadapi dilema ini? Mungkinkah kita mengerjakan pelayanan gerejawi dengan penuh komitmen, namun juga melaksanakan peran dan tanggung jawab kita di dalam keluarga dengan baik?

PEMAHAMAN

  • Ayat 29a, 31b.    Apa yang dimaksudkan Paulus dengan “waktu telah singkat” (ay. 29a), dan “dunia … akan berlalu” (ay. 31b)?
  • Ayat 29b-31a.    Di bagian ini Paulus menyebutkan lima hal yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apa sajakah itu? Bagaimana kemendesakan eskatologis (ay. 29a, 31b di atas) mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang beriman? Apa arti kata “seolah-olah” di bagian ini? Apa yang Paulus ajarkan mengenai hal ini dan bagaimana menerapkannya dalam konteks keluarga dan pelayanan?

Perikop ini dibuka dan ditutup dengan penegasan Paulus mengenai kemendesakan eksatologis (ay. 29a dan 31b), yang menempatkan kedatangan Kristus yang kedua sebagai hal yang harus mendapatkan perhatian serius (“waktunya singkat”, ay. 29a). Ini tidak berarti bahwa Paulus telah menetapkan tanggal tertentu. Paulus memandang akhir zaman sudah dekat karena peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah hidup manusia (yaitu, kelahiran, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke sorga) telah terjadi. Dengan demikian, bagian selanjutnya merupakan sebuah epilog (bagian akhir) dan dipandang sebagai bagian yang singkat. Meskipun tidak diketahui sesingkat apa, namun kita perlu senantiasa ingat bahwa kita telah berada di penghujung sejarah dan ”… dunia seperti yang sekarang kita kenal akan berlalu” (ay. 31b).

Berdasarkan kemendesakan eskatologis itu, Paulus menempatkan kehidupan rohani sebagai prioritas. Namun, ini tidak berarti bahwa Paulus mengajarkan kita untuk meninggalkan kehidupan sehari-hari di dunia ini: beristri (berkeluarga), menangis, bergembira, membeli dan menggunakan barang-barang duniawi (ay. 29b-31a). Paulus hanya mengingatkan kita (dengan istilah ”seolah-olah” yang digunakannya) agar semua itu tidak ”mengikat” kita (karena sifatnya sementara) dan menghalangi kehidupan rohani kita. Untuk itu, peran dan tanggung jawab kita dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam keluarga, harus kita tempatkan sebagai bagian dari seluruh kehidupan rohani kita yang bersifat kekal. Dengan demikian, kita justru semakin sungguh-sungguh mengerjakan tanggung jawab dalam keluarga kita.

REFLEKSI

Memberi prioritas kepada kehidupan rohani seharusnya justru membuat kita semakin sungguh-sungguh mengerjakan peran dan tanggung jawab kita, baik dalam keluarga maupun pelayanan.

TEKADKU

Tuhan, berikanlah aku hikmat agar mampu lebih baik mengerjakan tanggung jawabku, dalam keluarga maupun pelayanan.

TINDAKANKU

Aku akan bertanya kepada istri/ suami dan anak-anakku: Apakah aku sudah melakukan tanggung jawabku dengan baik di dalam keluarga? Aku juga akan bertanya kepada minimal dua orang rekan pelayananku: Apakah aku sudah melakukan tanggung jawab pelayananku dengan baik?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«