suplemenGKI.com

Dalam bagian ini, penulis surat Yakobus ingin menegur sikap yang suka membeda-bedakan, memilih-milih atau mendiskriminasikan orang berdasarkan status sosial, pangkat, kedudukan atau golongan dalam suatu jemaat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dalam berjemaat ada orang-orang yang suka membeda-bedakan orang berdasarkan status kaya dan miskin yang ditunjukkan melalui perlakuan, penerimaan dan memberi kesempatan pelayanan. Kalau ada jemaat yang kaya maka akan disanjung-sanjung dan diberi kesempatan pelayanan seluas-luasnya walaupun pada kenyataannya orang tersebut tidak siap melayani. Sedangkan yang miskin dipinggirkan dan tidak dianggap

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

1.      Apa yang ingin diluruskan oleh penulis surat Yakobus di dalam ayat 1-4?

2.      Apa yang diharapkan oleh penulis surat Yakobus dengan menyerukan “Dengarkanlah…” bagi setiap pembaca dalam ayat 5-8?

3.      Apa akibat jika gereja suka memandang muka dan membeda-bedakan orang berdasarkan status social, pangkat, kedudukan dan golongan dalam ayat 9-10?

 

Renungan:

            Semua orang bisa menyebut dirinya memiliki iman kepada Tuhan, semua orang bisa mengamalkan imannya sesuai dengan yang dia pahami, tetapi pengamalan iman yang bagaimana yang benar di hadapan Allah? Penulis Yakobus berkata: “janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka” Berarti telah di dapati bahwa ada kekeliruan dalam jemaat tentang mengamalkan iman dari Tuhan. Kekeliruannya adalah ada pada memandang muka. Muka dalam hal ini adalah objek iman yang ditujukan kepada manusia yang kelihatan. Itu salah besar, karena mengamalkan iman yang benar adalah kepada objek yang tidak kelihatan yaitu Tuhan Yesus sebagai sumber iman yang benar itu.

            Akibat pengamalam iman yang keliru maka akan berdampak pada aplikasi iman itu sendiri. Penulis berkata: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” kalimat tersebut hendak mengingatkan pembaca pada keteladanan Tuhan Yesus yang tidak membeda-bedakan dalam mengasihi manusia. Dia datang ke dunia untuk mengasihi dan memberi diriNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Tidak pernah ada tercatat ataupun tersirat bahwa Yesus datang ke dunia hanya untuk berjumpa dengan orang-orang yang kaya saja atau sebaliknya orang-orang yang miskin saja, tetapi kepada manusia kepunyaanNya (Yoh 1:14) Penulis tidak bermaksud untuk memberi tempat lebih tinggi kepada orang miskin dan merendahkan orang yang kaya, tetapi dalam hal ini penulis mau menegaskan bahwa ketika tidak terjadi pembeda-bedaan dalam menerima sesama apapun statusnya maka itu berarti telah memuliakan namaNya dan menjalankan hukum dengan benar. Ketika orang tidak menghargai atau tidak menerima orang lain yang berbeda status sosialnya dengan dirinya maka orang tersebut dikatakan menghina dan menghujat nama yang mulia yaitu Yesus.

            Dalam ayat 9-10, penulis menegaskan bahwa orang yang memandang muka adalah berdosa dan melanggar hukum. Ada konsekuensi logis yang akan terjadi bila di dalam jemaat terjadi kondisi suka membeda-bedakan berdasarkan kaya – miskin. Kalimat “berbuat dosa dan melakukan pelanggaran” menunjukkan ada unsur kesengajaan. Sudah tahu daftar pelanggaran yang tidak disukai oleh Tuhan tetapi sengaja mengabaikannya atau mentaati hukum-hukum yang disenanginya saja tapi mengabaikan bagian yang lain, itu sama sekali tidak berguna, karena bersalah kepada yang lainnya.

Saudara, siapapun, bagaimanapun keadaannya dan dari manapun orang yang berbeda dengan kita sambutlah mereka seperti Tuhan telah menyambut kita, itulah artinya kasih.  

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*