suplemenGKI.com

Rabu, 2 Mei 2012

01/05/2012

Mazmur 22:20-29

 

MENEMUKAN KEBAIKAN TUHAN

Mazmur 22 termasuk jenis mazmur keluhan, yang mengekspesikan keluhan pemazmur ketika menghadapi pergumulan dalam hidupnya.  Mazmur ini juga berisikan pengharapan pemazmur bahwa kebaikan Tuhan selalu ada padanya.

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Apa yang menjadi keyakinan pemazmur akan Tuhan?  (ayat 20)
  2. Apa yang akan dilakukan pemazmur dalam pergumulannya?  (ayat 23)
  3. Bagaimana sikap Tuhan yang tercermin dari keyakinan pemazmur?  (ayat 25)
  4. Apakah ajakan pemazmur kepada mereka yang juga sedang bergumul?  (ayat 27)
  5. Temukan kebaikan Tuhan dalam hidup kita!  

RENUNGAN

Tentunya kita pernah berkendara dalam keadaan hujan lebat.  Kaca helm yang basah, ditambah derasnya hujan, makin mengurangi jarak pandang kita.  Dalam keadaan  seperti itu, kita dituntut untuk tetap fokus melihat ke depan, sambil berhati-hati supaya tidak terperosok masuk lubang/parit.  Menyalakan lampu juga akan menolong pengendara untuk melihat lebih jelas, sekaligus menjadi tanda bagi pengendara lain untuk berhati-hati.  Perjalanan iman ada kalanya seperti berkendara dalam keadaan hujan.  Ketika pergumulan hidup itu pertama kali datang, terasa mudah untuk dilewati.  Doa dan harapan masih mudah terucap.  Tetapi ketika semua itu berlangsung lama dan silih berganti, pergumulan seolah menjadi “hujan lebat” yang menghalangi pandangan kita untuk melihat kebaikan Tuhan.  Mata batin seolah tidak lagi peka dengan keinginan untuk berdoa dan memohon pertolongan.  Sebab terlalu sulit untuk menemulan kebaikan Tuhan, justru di saat kita merasa dalam keadaan tidak baik. 

Pemazmur pun mengalami pergulatan iman yang sama, sampai ia mempertanyakan Tuhan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (ayat 2).  Bahkan pemazmur mulai mempertentangkan pengetahuan iman yang ia miliki tentang Tuhan dengan kenyataan hidup yang ia hadapi, “padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel” (ayat 4), “kepadaMu nenek moyang kami percaya” (ayat 5), “Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan” (ayat 10), tetapi yang dirasakan pemazmur adalah perasaan bahwa Tuhan telah jauh darinya (ayat 12).  Bahkan pemazmur sampai harus memohon, “TUHAN, janganlah jauh . . . segeralah menolong aku.  Lepaskanlah aku . . . selamatkanlah aku.” (ayat 20-22).  

Pengalaman iman pemazmur menjadi kata kunci yang memampukannya menemukan kebaikan Tuhan dibalik situasi yang dihadapinya.  Pemazmur tetap mengakui Tuhan dalam pujian dan ibadahnya (ayat 23, 26, 27) dan mengajak umat untuk tetap mempunyai rasa takut akan Tuhan.  Sebab pemazmur yakin, pergumulan apapun yang ia hadapi, Tuhan “tidak memandang hina . . . kesengsaraan orang yang tertindas dan Ia tidak menyembuyikan wajahNya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepadaNya” (ayat 25).  Bukankah ini menjadi salah satu bukti kebaikan Tuhan di tengah derasnya “hujan” pergumulan yang pemazmur alami. 

Menemukan Tuhan bukan hanya mengenai keyakinan bahwa kita tidak pernah sendiri, tetapi juga memberi kesempatan Tuhan bekerja seluas-luasnya menurut caraNya sendiri.  Bukankah kebaikan Tuhan tidak bisa dibatasi hanya dengan satu cara?  Dia punya seribu cara untuk menyatakan kebaikan dan pertolonganNya bagi kita.  Jangan biarkan “hujan” pergumulan terlalu lama menutupi mata hati, seolah kebaikanNya pun tidak ada lagi.  Pengalaman iman dan ibadah, akan menjaga mata hati kita untuk senantiasa melihat kebaikan Tuhan.  Mari kita merenungkannya!  

Takut akan Tuhan menjadi jalan untuk menemukan kebaikanNya dalam hidup

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»