suplemenGKI.com

“Makin Bersekutu dengan Allah dalam Penderitaan”

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab

  1. Ayat 17: Apa yang terjadi dalam keluarga janda Sarfat tersebut?
  2. Ayat 18: Bagaimana reaksi janda tersebut atas peristiwa itu? Bagaimana pula dengan reaksi nabi Elia sendiri ketika menyaksikan apa yang terjadi? (lih.ay.20)
  3. Sepanjang ayat 17-21, apakah Anda menemukan kalimat yang menjelaskan perintah Allah kepada Elia?  (atau setidaknya penjelasan dari Allah sebelumnya kepada Elia tentang apa yang akan terjadi?)
  4. Ayat 21: Apa yang dilakukan Elia? Apakah itu dilakukannya atas perintah Allah atau inisiatifnya sendiri? Ayat 22-23: Bagaimana akhir dari kisah ini?
  5. Ayat 24: Apakah janda tersebut diteguhkan imannya melalui apa yang terjadi? Jika Anda adalah Elia, apakah peristiwa yang terjadi dan juga pernyataan janda tsb di ay.24 memberi pengaruh khusus bagi Anda? Pengaruh dalam hal apakah itu?

Renungan

Kali ini sasaran Allah bukan hanya janda itu, tetapi juga Elia. Allah menguji iman mereka lebih lagi, sama seperti seorang siswa yang ingin naik kelas harus melewati ujian yang lebih sulit.

Untuk peristiwa kematian anak ini, Tuhan tidak memberikan perintah, petunjuk, atau penjelasan apa-apa sebelumnya. Lain halnya dengan 2 peristiwa sebelumnya, Allah-lah yang memerintahkan Elia ke sungai Kerit dan menjelaskan bahwa nanti ia akan tetap bisa makan dan minum sehingga Elia merasa aman. Demikian pula dengan perintah ke Sarfat, Allah sudah menjelaskan di depan bahwa nantinya ia akan bertemu dengan janda yang akan memberinya makan sehingga Elia cukup ‘percaya diri’ untuk ‘membuat mujizat’ (dengan kuasa Allah tentunya). Kini saatnya, Elia dan janda itu bergumul sendiri dengan Allah atas kematian anak janda itu. Mereka harus memutuskan sendiri apa yang akan mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan. Janda itu sempat berada dalam kekalutan dan menyalahkan Elia atas apa yang terjadi. Elia pun sempat bertanya-tanya kepada Tuhan atas apa yang sebenarnya terjadi.  Namun puji Tuhan, Elia mengambil langkah iman yang benar, ia datang memohon kepada Tuhan untuk membangkitkan anak tersebut. Sebuah keputusan yang membuktikan bahwa Elia mempercayai Tuhannya. Dan akhirnya anak itu dibangkitkan oleh Tuhan.

Terkadang Tuhan sepertinya membiarkan kita keluar dari ‘zona nyaman’ hidup kita, namun itu bukan karena Ia jahat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama Allah atas kita bukanlah untuk menyenangkan kita di dunia, tetapi untuk membuat kita senatiasa hidup bersekutu dengan Dia. Karena itu Allah bisa menggunakan situasi apa saja untuk melatih iman kita, makin kuat percaya dan taat pada kehendakNya.

Penderitaan seringkali menjadi cara yang efektif untuk mempercayai Allah, bukan hanya sekadar mengetahui tentang Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*