suplemenGKI.com

Mazmur 100:1-5

MERAJAKAN ALLAH

 

Pengantar
Salah satu indikator kebesaran pribadi diukur dari bagaimana yang bersangkutan diakui, disambut dan dipuja.  Mazmur 100 menjadi salah satu mazmur yang isinya mengakui kebesaran pribadi, yaitu Allah.  Bagaimana Ia diakui dan dipuja umatNya?  Mari kita pelajari bersama.

Pemahaman
Ayat 1, 2:  ajakan seperti apa yang disarankan kepada umat di bagian ini?
Ayat 3, 5:  kebenaran seperti apa yang diajarkan tentang Allah di bagian ini?
Ayat 4:  respons seperti apa yang diharapkan dari umat kepada Allah?

Orang Yahudi sering menggunakan Mazmur 100 dalam ibadah syukur.  Mungkin itu sebabnya, mazmur ini digolongkan ke dalam jenis mazmur  ibadah.  Mazmur 100 bukan sekadar mengajak umat beribadah dan bersorak bagi Allah (ay.1, 2).  Tetapi juga menekankan pengajaran dan pengakuan tentang Allah sebagai TUHAN dan Raja mereka, seperti dinyatakan di  ayat 3, “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah;  Dialah yang menjadikan kita dan punya DIAlah kita, umatNya dan kawanan domba gembalaanNya”.  Ayat ini mengajar kepada siapakah Israel beribadah.  Bukan kepada Allah yang asing dan tidak kenal.  Tetapi kepada Allah yang kebaikan serta kasih setiaNya sungguh nyata  (ay.5) melalui karya ciptaNya (ay. 2).  Ke-Raja-anNya juga terbukti dengan pengakuan bahwa Israel adalah “domba gembalaanNya” (ay.3) yang diundang masuk “melalui pintu gerbangNya….ke dalam pelataranNya” (ay.4).  Wajar bila kemudian Israel “bersorak-sorai” (ay.2).  Rangkaian respons ibarat me-Raja-kan Allah.  Bukan menjadikanNya Raja tetapi mengakui bahwa hanya Dialah Raja yang patut disembah dan dipuja.

Ibadah yang benar menekankan komunikasi dua arah.  Allah mengundang, umat merespons.  Umat memohon berkat, Allah menyatakan berkat dan anugrahNya.  Maka ibadah bukan sekadar liturgi yang tertata rapi, tetapi merupakan wujud pengakuan yang harus teraplikasi melalui sikap hidup nyata.  Merajakan Allah bukan berhenti pada pengakuan dalam puja dan lagu;  atau sekadar kalimat doa yang indah, tetapi lebih kepada sikap hidup yang mengutamakan Dia di atas segalanya.  Apapun pilihan yang diambil dalam kehidupan, kepentingan dan kesenangan Tuhan sajalah yang diutamakan.  Bukan egois diri ataupun golongan.  Mengerti Firman Tuhan dan menaklukan diri adalah tanda bahwa kita telah merajakan Dia.  Merajakan Allah itulah panggilan kristiani kita.

 

Refleksi:
Merajakan Allah berarti mengutamakan Dia di atas segala kepentingan apapun.

 

Tekadku
Aku mau mengutamakan kehendak Dia sebagai Raja, di atas kehendakku.

 

Tindakanku
Aku mau setia melakukan kehendak Dia yang adalah Tuhan dan rajaku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*