suplemenGKI.com

Matius 19:1-12

TENTANG PERCERAIAN

PENGANTAR
Boleh tidaknya bercerai telah menjadi perdebatan sejak zaman Yesus. Pada waktu itu, pendapat orang-orang Yahudi di Palestina terbagi menjadi dua kubu, di bawah bendera dua rabi besar, rabi Hillel dan rabi Shammai.  Baik Hillel maupun Shammai mengizinkan seorang suami menceraikan istrinya (namun bukan sebaliknya) atas dasar “erwat dabar” (Ul. 24:1, “sesuatu yang tidak senonoh”), tetapi mereka tidak sepakat mengenai hal apa saja yang termasuk “tidak senonoh”.  Shammai dan para pengikutnya membatasinya hanya pada ketidaksenonohan yang fatal, meskipun tidak terbatas hanya berzina. Hillel dan para pengikutnya memberi makna yang lebih luas, termasuk kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi dalam keseharian, seperti makanan yang dimasak dengan tidak benar.  Karena itu, tidaklah mengherankan jika angka perceraian di zaman itu sangat tinggi. Perceraian menjadi sesuatu yang “lazim” dilakukan, juga oleh para pemimpin agama. (Catatan: kita hanya akan membahas ayat 1-9 agar lebih fokus pada perdebatan mengenai perceraian).

PEMAHAMAN

  • Ay.1-3.  Apa yang sedang dilakukan Yesus ketika orang-orang Farisi mendatangi-Nya? (ay. 1-2). Mengapa orang-orang Farisi mencobai Yesus dengan pertanyaan mengenai perceraian (ay. 3, lihat juga Pengantar di atas). Bandingkanlah apa yang dilakukan Yesus dan apa yang dilakukan orang-orang Farisi itu.
  • Ay. 4-9.  Perhatikanlah bagaimana Yesus menjawab pertanyaan mereka. Bagaimana pandangan Yesus mengenai pernikahan? (ay. 4-6). Mengapa orang-orang Farisi tetap berupaya membela praktik perceraian? (ay. 7). Bagaimana Yesus menegur mereka? (perhatikan jawaban Yesus di ayat 8-9).

Ketika orang-orang Farisi mendatangi-Nya, Yesus sedang melakukan pelayanan-Nya: mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Alih-alih mengambil bagian dalam pelayanan Yesus, orang-orang Farisi itu justru mengganggu Yesus dan mencari peluang untuk menyalahkan-Nya. Pertanyaan mengenai perceraian yang mereka ajukan dapat membuat Yesus masuk dalam perdebatan antara para pengikut rabi Hillel dan rabi Shammai dan dapat memicu kebencian oleh salah satu kelompok terhadap Yesus (lihat Pengantar di atas).

Dari cara Yesus menjawab mereka, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari: 1) Yesus mendasari jawaban-Nya dengan firman Allah, 2) pernikahan adalah kehendak Allah dan rencana Allah, 3) ikatan pernikahan bersifat ilahi (ay. 6, dipersatukan oleh Allah) dan tidak boleh diceraikan oleh manusia, 4) Yesus berani menyatakan kebenaran meskipun harus melawan arus.

Mengapa orang-orang Farisi masih berupaya membela praktik perceraian? Teguran Yesus mengungkapkan alasannya: karena ketegaran hati mereka (ay. 8) dan karena keegoisan mereka (ay. 9, “kawin lagi dengan perempuan lain”).  Ketegaran hati dan keegoisan sering menjadi penyebab rusaknya pernikahan.  Hati yang lembut dan penuh kepedulian akan memperkokoh pernikahan.

REFLEKSI
Cara terbaik untuk mencegah perceraian adalah dengan memperkokoh pernikahan kita.

TEKADKU
Tuhan, lembutkanlah hatiku dan tolonglah aku untuk lebih memahami pasanganku sehingga pernikahan kami menjadi semakin kokoh.

TINDAKANKU
Dalam tiga hari ke depan, saya akan mendoakan pasangan saya dengan terlebih dahulu bertanya kepadanya, apa yang perlu saya doakan untuk dia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*