suplemenGKI.com

Rabu, 18 Mei 2016.

17/05/2016

Mazmur 8:2-3.

 

Kumandangkan Keagungan Tuhan Yang Mengatasi Langit

Pengantar:
Ada ungkapan yang tidak nyaman di dengar yang biasa ditujukan kepada orang yang tidak bisa bersyukur atau tidak bisa berterimakasih atas apa yang telah diterima atau dialaminya. Apalagi ketika ditolong, kemudian tidak rela mengucapkan terimakasih, orang tersebut akan disebut orang yang “tidak tahu diri” Seandainya setiap orang menyadari bahwa keberadaan dirinya adalah semata-mata karena anugerah Tuhan, maka dari mulutnya tentu akan selalu mengucap syukur dan mengagungkan Tuhan yang telah beranugerah kepadanya. Itulah yang dilakukan pemazmur dalam bacaan kita hari ini.

Pemahaman:

1)   Apakah yang hendak dinyatakan oleh pemazmur melalui ungkapan di ayat 2?

2)   Apa pula yang hendak ditunjukkan oleh pemazmur melalui bahasa kiasan di ayat 3?

Mazmur 8 ini merupakan kidung pengagungan tentang ketinggian dan kemegahan Allah yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh manusia yang berdosa atau hina. Dalam bagian pendahuluan “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu mengatasi langit dinyanyikan” menyatakan bahwa nama Tuhan, Tuhan kami itu adalah megah dan agung. Megah dan agung di kombinasikan karena hendak menggambarkan betapa kemuliaan Allah itu tidak tertandingi oleh apapun juga. Karenanya semua mahluk harus tunduk dan mengakui kemegahan dan keagungan Tuhan itu dalam hidupnya. Frasa “keagungan-Mu mengatasi langit” menegaskan bahwa tidak ada yang bisa dan mampu mengatasi kemuliaan Tuhan, sehingga apapun alasan dan caranya tidak ada yang diperkenankan untuk mencoba-coba menyetarakan atau menyamakan kemualiaan Allah dengan yang lainnya, termasuk kesombongan diri, keangkuhan diri.

Ungkapan di ayat 3, sebenarnya suatu bahasa kiasan bahwa di dalam kelemahannya jika manusia dengan tulus menaikan pujian, pengagungan dan penyembahan kepada Tuhan, maka itu akan bisa mengalahkan dan membungkam kekuatan lawan atau musuh. Bayi-bayi dan anak-anak yang menyusui  menggambarkan manusia yang lemah, tetapi kelemahan itu jangan sampai membatasi semangat memuji dan mengagungkan Tuhan yang mulia. Mazmur 22:4 “…Engkaulah yang kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel” Dengan puji-pujian umat Israel sanggup mengatasi kekuatan musuh. Mari kita senantiasa mengumandangkan keagungan dan kemegahan Tuhan dalam hidup ini.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak, sudahkah kita membiasakan diri mengumandangkan keagungan dan kemegahan kepada Tuhan Allah kita melalui mulut kita sebagai ungkapan syukur kita? ataukah kita sering memakai mulut kita untuk sesuatu yang mendukakan hati Tuhan?

Tekad:
Menjadikan mulut dan hidup ini sebagai alat untuk mengagungkan dan memegahkan Tuhan.

Tindakkan:
Setiap hari mengawali hari dengan ungkapan yang memuliakan dan mengagungkan Tuhan, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, bukan ungkapan yang menjadi batu sandungan bagi sesama sehingga mendukakan hati Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*