suplemenGKI.com

Rabu, 18 Maret 2015

17/03/2015

IMAM BESAR YANG BERKURBAN DIRI

Ibrani 5 : 5 – 10

 

Pengantar
Sering kita terjebak dengan sebuah predikat (sebutan) yang istimewa berdasarkan pemahaman kita sendiri yang terbatas. Itu pula yang tergambar dalam pemahaman awal kita terhadap keberadaan seorang Imam Besar dan keberadaan seorang Anak ALLAH. Bayangan tentang adanya keistimewaan yang dimiliki, menjadi harapan dari setiap orang yang menyandang predikat tersebut. Tapi melalui pembacaan Alkitab pada hari ini, kita diajak untuk melihat keistimewaan yang berbeda, keistimewaan yang bukan terletak/terpaku pada sebuah predikat, tapi pada sebuah karya hidup yang menjadi berkat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus, sebagai Imam Besar dan Anak ALLAH. Untuk jelasnya maka marilah kita membaca apa yang dituliskan dalam surat Ibrani 5 : 5 – 10.

Pemahaman

Ayat 5 – 7             :  Bagaimana Kristus menjalankan perannya sebagai Imam Besar?

Ayat 8 – 10           :  Bagaimana hubungan keberadaan Kristus sebagai Anak ALLAH dan Imam Besar?

Penulis Kitab Ibrani mengungkapan keberadaan Kristus sebagai Imam Besar, di manadalam hidup-NYA sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada TUHAN, yang sanggup menyelamatkan-NYA dari maut, dan karena kesalehan-NYA maka Kristus telah didengarkan oleh TUHAN (ayat 7).

Dalam peraturan peribadahan umat TUHAN, memang hanya seorang Imam besar yang boleh menghampiri ruang mahakudus, yang seakan-akan menyatakan bahwa secara istimewa ia diijinkan atau diperkenan berhadapan langsung dengan TUHAN sendiri. Namun dalam keberadaan-NYA sebagai Imam besar, Kristus justru menjadi kurban itu sendiri, kurban yang sempurna (tidak bercacat) yang membuka jalan hubungan dengan ALLAH secara langsung. Kurban yang diterima ALLAH.

Dan dalam kaitan (hubungan) ayat 5 dan 8 yang menyebutkan tentang keberadaan Kristus secara istimewa sebagai Anak ALLAH maka segala keberadaan-NYA menjadi seorang Imam Besar adalah justru sebagai wujud ketaatan seorang Anak kepada Sang Bapa, sekalipun IA harus berada di jalan derita hingga menjadi pokok keselamatan yang sempurna melalui karya pengurbanan diri-NYA sendiri, dan dimuliakan ALLAH.

Refleksi
Bagaimanakah kehidupan kita yang menyandang predikat (sebutan) anak-anak ALLAH atau anak-anak terang. Apakah kita melihatnya sebagai sesuatu yang harus diistimewakan? Atau justru berpikir peran apa yang harus saya bawakan (berikan) ?

Tekad
Ya TUHAN, jadikan hidup saya berkat bagi sesama, dan bukan sekedar menyandang predikat yang isimewa sebagai anak-anak ALLAH atau anak-anak terang.

Tindakanku
Mulai hari ini saya akan berupaya untuk lebih memilih hidup menjadi berkat bagi sesama walau harus berkurban diri untuk menerangi sesama dan lingkungan sekitar.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«