suplemenGKI.com

TIDAK TAKUT

Mazmur 27:1-4

 

PENGANTAR

Ketakutan adalah salah satu masalah terbesar dalam kehidupan manusia.  Meskipun ada orang yang pemberani, tapi siapapun itu pasti pernah takut.  Pemazmur pasti juga pernah mengalaminya, tapi mengapa di bagian ini ia mengatakan “tidak takut”?  Mari kita membaca dan mempelajarinya.

 

PEMAHAMAN

  • Ayat 1        :  Bagaimana pemazmur menggambarkan pengakuannya tentang Allah?
  • Ayat 2        :  Adakah pengakuan pemazmur berdampak pada sikap hidupnya?
  • Ayat 3        :  Apakah pemazmur takut?  Mengapa?
  • Pernahkah anda mengalami rasa takut?  Mengapa perasaan itu ada?
  • Apa yang anda biasa lakukan ketika mengalami rasa takut?

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan takut sebagai merasa gemetar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana.  “sesuatu” yang dimaksud pada bagian ini bisa dalam bentuk apapun;  seperti yang dicontohkan pemazmur:  penjahat, lawan, musuh, tentara dan peperangan.  Namun demikian, pemazmur sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.  Sebaliknya pemazmur menunjukkan keberanian dan keyakinan menghadapi semua keadaan dengan kepercayaan penuh.  Benarkah pemazmur tidak takut?  Dalam Psikologi, dikenal rasa takut yang berlebihan atau yang biasa dikategorikan sebagai suatu kelainan yang disebut fobia, yaitu kecemasan yang luar biasa, terus-menerus, tidak realistis sebagai respons terhadap keadaan eksternal tertentu.  Jenis ketakutan yang seperti inilah yang tidak dialami pemazmur.  Apa rahasianya?Pemazmur menegaskan imannya, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku”.  Pemazmur tidak meletakkan keberaniannya di atas logika dirinya sebagai raja yang secara kehidupan pasti disertai pengawal, senjata yang cukup dan keberadaan benteng yang kuat.  Bila pemazmur meletakkan keberanian di atas hal-hal itu, apa bedanya dengan para lawan dan musuh yang justru dikritiknya.  Pemazmur menegaskan kepercayaannya, “aku tetap percaya” (ayat 3) bahwa hanya TUHAN yang menjadi sumber keberanian di tengah kegentaran yang ia rasakan.

Itu sebabnya dengan lantang pemazmur mengaku, “TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus takut” (ayat 1b).  Pemazmur bukan bermain kata-kata untuk membangun keberanian diri.  Keyakinan iman yang seperti ini berasal dari kehidupan yang intim dengan TUHAN dan dinyatakan juga melalui pengalaman riil bersamaNya. Bagaimana dengan pengalaman iman kita?  Adakah kita sampai pada pengakuan bahwa TUHAN adalah satu-satunya penolong dan aku tidak perlu takut lagi?  Keadaan sulit seolah makin menghimpit dan tidak memberi peluang untuk melanjutkan kehidupan, bila kita tidak membangun iman yang fokus pada pribadi dan kuasa TUHAN yang sudah terbukti.  Mari belajar untuk mempercayakan sepenuhnya kepada Dia, Sang Pemilik kehidupan.

 

REFLEKSI

Mari menyakini: TUHAN adalah benteng kehidupanku, kepada-Nyalah aku percaya.

 

TEKADKU

Tuhan aku mau mempercayai Engkau lebih dari segala sesuatu yang mungkin membuat diriku takut.

 

TINDAKANKU

Dalam keadaan apapun, aku mau menyerahkan segala hal yang sedang dan akan aku alami kepada Tuhan agar aku tidak takut.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«