suplemenGKI.com

Rabu, 17 Juni 2015

16/06/2015

2 Korintus 6:3-10

MENJADI PELAYAN, BUKAN HANYA MELAYANI

 

PENGANTAR
Melakukan aktivitas pelayanan dan menjadi pelayan, tahukah Anda apa bedanya? Sudah tentu seorang pelayan melakukan aktivitas pelayanan, namun tidak semua orang yang melakukan aktivitas pelayanan rela menempatkan dirinya sebagai seorang pelayan. Tidak jarang kita melihat orang-orang yang mengaku sedang melakukan pelayanan namun bersikap seperti seorang “boss”. Orang-orang semacam ini lebih banyak memerintah orang lain daripada menggunakan tangannya sendiri untuk bekerja; lebih suka mengkritik kinerja orang lain daripada memperbaiki kinerjanya sendiri.

Apa akibatnya? Aktivitas pelayanan yang dilakukannya tidak menjadi berkat bagi orang lain, melainkan justru menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang dilayaninya. Biasanya, mereka tersandung oleh sikap dan caranya melayani dan memperlakukan orang lain.

PEMAHAMAN

Ay. 3-4a        Mengapa Paulus memandang perlu untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pelayan Allah?

Ay. 4b-10     Dalam hal apa sajakah Paulus menunjukkan jati dirinya sebagai seorang pelayan Allah? Pengorbanan apa sajakah yang Paulus lakukan? Dari semua bentuk pengorbanan Paulus itu, manakah yang menurut Anda paling sulit dilakukan? Mengapa?

 

Paulus memandang perlu menunjukkan dirinya seorang pelayan Allah supaya ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang dilayaninya. Paulus tahu persis betapa berbahaya melakukan aktivitas pelayanan tanpa hati seorang pelayan. Itulah sebabnya, dalam semua aktivitas pelayanan yang dilakukannya Paulus selalu berusaha untuk menunjukkan jati dirinya sebagai seorang pelayan, menempatkan dirinya sebagai pelayan, dan bersikap sebagai seorang pelayan.

Jati diri dan sikap seorang pelayan ditunjukkan Paulus dalam beberapa hal berikut ini:

a) dalam kesabaran menghadapi penderitaan (ay.4b-5),

b) dalam memperlakukan orang lain (ay. 6),

c) dalam memberitakan kebenaran (ay. 7)

d) dalam menghadapi penilaian dan pandangan orang lain (ay. 8-10)

Tentu saja, tidak mudah bersikap seperti Paulus. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan dalam pelayanan kita, kita tergoda untuk segera meninggalkannya. Ketika berelasi dengan orang lain, kita sering bersikap munafik agar mereka tidak menolak kita. Di tengah masyarakat, kita gagal menyatakan dan melakukan kebenaran karena kita takut melawan arus. Ketika orang-orang di sekitar kita memberikan penghargaan atau pujian kita tidak bisa menahan kesombongan kita. Sebaliknya, ketika mereka mencela kita maka hati kita pun terbakar amarah. Sikap-sikap seperti itulah yang sering kali membuat orang-orang kita tersandung. Karena itu, meskipun tidak mudah, kita harus mulai belajar menjadi seorang pelayan sejati.

REFLEKSI

Dalam hal apakah Anda masih sering menjadi batu sandungan bagi orang lain? Upaya apa yang telah Anda lakukan untuk memperbaikinya?

TEKADKU
Tuhan, aku tidak ingin hanya sibuk melayani. Tuhan, berilah kepadaku hati seorang pelayan.

TINDAKANKU
Aku akan bertanya kepada rekan-rekan sepelayananku (minimal dua orang): Apakah sikap dan tindakanku masih sering menjadi batu sandungan bagi orang lain? Aku akan meminta saran dari mereka agar aku dapat memperbaiki sikapku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«