suplemenGKI.com

Rabu, 17 Juli 2019

16/07/2019

LAYAK DI HADAPAN-NYA

Mazmur 15

 

Pengantar
Dalam suatu pendaftaran ajang kompetisi di bidang tarik suara yang sering kita saksikan di media elektronik, panitia akan memberikan suatu ketentuan atau persyaratan bagi setiap calon peserta yang ingin mengikutinya. Jika para calon peserta itu lolos audisi, maka ia dianggap layak untuk mengikuti ajang kompetisi itu dan berhak mengikuti tahap selanjutnya. Sebaliknya, jika calon peserta gagal dalam tahap audisi, maka panitia akan menyampaikan permohonan maafnya. Dalam kehidupan anak-anak Tuhan, ketika kita hendak menghadap Tuhan dalam persekutuan, kita perlu mengevaluasi kualitas hidup kita di hadapan-Nya.

Pemahaman

  • Ayat 1             : Apa maksud pemazmur berkata, “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
  • Ayat 2-5         : Siapakah orang-orang yang dianggap layak datang kepada Tuhan?

Mazmur 15 berbicara tentang syarat-syarat moral dan etis, agar seorang penyembah boleh masuk ke hadirat Allah. Dengan kata lain, pemazmur hendak bermaksud untuk menuliskan bagaimana seharusnya kualitas hidup orang beriman kepada Tuhan. Pemazmur mengawalinya dengan pertanyaan, “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” (ayat 1). Kata “kemah” di sini hendak mengacu pada kemah yang didirikan oleh bangsa Israel ketika mereka berada di padang gurun menuju tanah perjanjian Kanaan. Di dalam kemah itulah, terdapat tabut perjanjian Allah yang merupakan perlambang kehadiran Allah. Sedangkan “gunung-Mu yang kudus” juga mengacu kepada gunung Sion, yang di atasnya Bait Allah akan dibangun. Dengan demikian, melalui kedua pertanyaan tersebut, pemazmur ingin memaparkan siapa sajakah yang dapat datang kepada-Nya, di tempat kudus-Nya. Pemazmur memaparkannya untuk mengingat bangsa Israel agar dapat menjaga kemurnian hidup mereka di hadapan Tuhan, mengingat berulang kali mereka telah melakukan dosa di hadapan Tuhan

Pemazmur memaparkan bahwa yang layak untuk datang kepada Tuhan adalah orang yang melakukan keadilan dan kebenaran dengan segenap hati (ayat 2), tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama (ayat 3), tidak memandang hina akan orang-orang yang terabaikan (ayat 4), tidak menarik keuntungan terhadap sesamanya (ayat 5a). Pemazmur mengatakan bahwa barangsiapa yang berlaku demikian, maka ia tidak akan goyah sebab anugerah Allah itu selalu ada dalam hidupnya (ayat 5b). Jika kita renungkan, mazmur ini mengingatkan kepada kita untuk selalu menjaga diri sendiri maupun mengingatkan orang lain untuk tetap menjaga kualitas hidup di hadapan Tuhan, sehingga kita sungguh-sungguh menjadi umat yang berkenan di hadapan-Nya.

Refleksi
Pejamkan mata saudara dan berdiam dirilah sejenak. Marilah kita memeriksa hati apakah kita sudah sungguh-sungguh menjadi anak Tuhan yang menjaga kemurnian iman di hadapan-Nya? Pun demikian hal nya ketika kita akan mempersiapkan diri datang beribadah kepada-Nya, sudahkah kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, atau justru datang kepada Tuhan dengan segala pemberontakan dan kedagingan kita di hadapan-Nya?

Tekad
Ya Tuhan, ampuni bila selama ini aku belum dapat menjaga kualitas hidupku di hadapan-Mu. Berikan aku hikmat-Mu untuk dapat melakukan firman-Mu dalam hidup sehari-hari.

Tindakan
Sebagai orang yang telah menerima anugerah Tuhan dan rindu untuk selalu erat dalam persekutuan dengan-Nya, mulai hari ini aku akan belajar untuk berbuat:….. (misal: jujur, adil, tidak berdusta, dsb).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«