suplemenGKI.com

RABU, 17 JULI 2013

16/07/2013

Mazmur 15:1-5

BERCERMIN DI HADAPAN ALLAH

 

PENGANTAR
Setiap hari sebelum berangkat bekerja atau bepergian, kita pasti bercermin.  Ketika bercermin kita merapikan cara kita berpakaian, riasan wajah, menyisir rambut, dll.   Dengan terlebih dahulu berada di depan cermin sebelum bepergian atau meninggalkan rumah maka kita lebih percaya diri sebab kita sudah tahu atau telah memastikan penampilan kita.  Dengan bercermin kita yakin cara berpakaian dan riasan wajah sudah ‘beres’, sehingga tidak ada kekuatiran ‘untuk ditertawakan’ atau ‘dibicarakan’ karena ketidakberesan penampilan.

PEMAHAMAN
Bagaimana Daud bercermin diri di hadapan Tuhan? (ayat 1-5)
Daud menyebutkan ‘kemah-Mu’ dan ‘gunung-Mu’.  Apakah maksudnya?
(ayat 1)

Seberapa pentingkah kita bercermin (melihat diri, hati dan pikiran) di hadapan Tuhan?  Sudahkah kita melakukannya? 

Dalam perikop ini pemazmur memaparkan kualitas hidup dari sudut standar Allah, yang diawali dengan pertanyaan ‘siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?  Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?’  Kemah yang di katakan pemazmur ini mengingatkan kemah yang senantiasa didirikan bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah Kanaan yang di dalamnya terdapat tabut perjanjian sebagai lambang kehadiran Tuhan.  Dan penyebutan ‘gunung’ mengingatkan  tempat di mana Tuhan seringkali berbicara kepada umat-Nya melalui perantaan nabi.   Pertanyaan yang ada dalam mazmur ini sudah jelas jawabannya.  Ketika hidup kita disejajarkan dengan kekudusan Allah, maka jelas tidak ada seorangpun yang dapat atau layak berhadapan dengan Allah dalam kemah dan gunung-Nya.   Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?  Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?  Jawabannya adalah tidak seorang pun, kecuali bagi mereka yang sudah dibenarkan di dalam Dia yaitu kita sebagai orang percaya.  Dengan demikian yang melayakkan seseorang di hadapan Allah adalah anugerah dan kasih-Nya.

Lalu apakah kemudian itu berarti orang percaya bisa bebas menjalani hidup sesuai dengan keinginannya sendiri?  Tentu tidak!  Orang percaya seharusnya senantiasa berusaha untuk mempunyai gaya hidup seperti yang dipaparkan pemazmur (ayat 2-5).  Sebab, buah anugerah dan kasih Allah dalam diri orang percaya adalah kehidupan yang menjadi saksi yang berpadanan dengan kesediaan bertumbuh melakukan hal-hal yang yang berkenan kepada-Nya?  Oleh sebab itu, kualitas hidup yang dipaparkan oleh pemazmur harus menjadi ‘cermin’ melihat diri, hati dan pikiran agar kita berpenampilan ‘pantas’ di hadapan Tuhan dan sesama. 

REFLEKSI
Mari renungkan: apa alasan Tuhan melayakkan kita berada dalam kemah dan gunung-Nya?  Mari senantiasa menanyakan kepada diri kita pertanyaan pemazmur ini dan mencoba menjawabnya dengan mengevaluasi kehidupan kita.  Bagaimanakah kualitas kehidupan kita sebagai orang kristen?

TEKADKU
Tuhan mampukan aku senantiasa bercermin dari firman-Mu agar aku dapat menjaga kualitas moral dalam kehidupan pernikahan, keluarga, sosial maupun pribadi.  Mampukan aku dapat bersikap jujur dan adil dalam perkataan dan tindakan sebagai wujud syukur atas anugerah dan kasih-Mu.

TINDAKANKU
Hari ini aku mau ‘berpenampilan yang pantas’ sebagai wujud syukur atas anugerah dan kasih Allah melalui kualitas hidup dalam hal ………… (kejujuran, menghargai pasangan, berbelas kasih, dll)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«