suplemenGKI.com

Rabu, 16 Mei 2012

15/05/2012

Mazmur 1:1-3

 

Kebahagiaan Orang Benar

            Setiap orang mengingin kebahagiaan, mencari kebahagiaan dan memperjuangkan kebahagiaan. Ukuran kebahagiaan menurut dunia sangat beragam, tetapi secara umum ukuran kebahagiaan adalah: Banyak kekayaan, tubuh sehat, keluarga rukun  atau tidak ada masalah. Untuknya setiap orang menghabiskan waktu demi uang, berusaha keras menjaga kesehatan dengan: berolah raga, menjaga pola makan, secara rutin mengecek kesehatan ke dokter dan menghidari stress, berusaha menjaga hubungan antar anggota keluarga. Mulai dari suami-istri, orang tua-anak, sesama saudara dan sebagainya. Semuanya baik, tetapi apakah itu sumber kebahagiaan sejati?

Hal yang tidak kalah penting untuk direnungkan: sejauh mana orang dapat memperjuangkan semuanya itu demi suatu kebahagiaan yang diinginkannya? Dan jika memang melalui usaha, upaya dan perjuangan manusia kebahagiaan itu bisa terwujud sejauh mana kebahagiaan itu bisa dipertahankan? Benarkah harta, sehat, rukun dan tidak ada masalah adalah ukuran kebahagian yang sesungguhnya? Semuanya masih dalam tanda tanya. Mazmur 1:1-3, mengajak kita untuk memahamai hakekat kebahagiaan yang sesungguhnya.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apakah yang harus diperjuangkan oleh seseorang untuk dapat menikmati kebahagiaan?
  2. Dari manakah sesungguhnya sumber kebahagiaan yang sejati?
  3. Bagaimanakah kehidupan orang yang telah memiliki sumber kebenaran sesungguhnya?
  4. Apakah saudara sedang berjalan di jalur kebahagiaan hidup yang sesungguhnya?

 

Renungan:

Pada ayat 1, pemazmur memakai tiga kata kerja yang bersifat umum dan setiap orang melakukannya, yaitu: berjalan, berdiri dan duduk. Menunjukkan kegiatan-kegiatan yang biasa dan selalu dilakukan oleh setiap orang, kecuali jika orang itu lumpuh. Tetapi yang menarik adalah bagaimana ke tiga kata kerja itu dikerjakan atau diekspresikan oleh seseorang, itulah yang sangat menentukan hasil yang akan didapatkannya. Jelas sekali jika ketiga kata kerja itu dilakukan atau dikerjakan dalam kefasikan, keberdosaan dan dalam kumpulan pencemooh maka hasilnya bukan kebahagiaan melainkan kebinasaan. Artinya ketika seseorang hidup dalam kejahatan, dalam dosa dan bergaul menurut orang-2 pencemooh (suka mengejek, menghina, merendahkan dan menghakimi orang lain) maka sudah pasti kebinasaan yang akan dituainya.

Jika bercermin dari analisa di atas, maka jelas kebahagiaan tidak bersumber dari usaha manusia yang kecenderungannya berdosa, jahat dan pencemooh. Di ayat dua pemazmur menunjukkan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu taurat Tuhan. Berbicara tentang taurat Tuhan maka secara gamblang dimengerti sebagai firman Tuhan. Rasul Paulus dalam 1Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelalukuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” Dengan kata lain kebahagiaan adalah bersumber dari pada Tuhan yang kita kenal, pahami dan patuhi lewat firman-Nya.

Sebagai konsekuensi logis orang yang mengenal, mentaati serta mengikuti Tuhan atau orang yang percaya dan mempercayai hidup sepenuhnya kepada Tuhan Sang sumber kebahagiaan akan menghasilkan hidup yang bahagia (lih. Analogi di ay.3) Bahagia yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika hari ini saudara sedang memperjuangkan kebahagiaan tetapi bukan bersumber dari Tuhan Yesus Sang firman hidup yang adalah sumber kebahagiaan, maka sebaiknya saudara berhenti dan meninggalkan jalan itu kemudian segera mengarahkan hidup pada Tuhan Yesus Sang sumber kebahagiaan sejati. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«