suplemenGKI.com

Rabu, 16 Juni 2010

15/06/2010

Mazmur 22:20-27

Ternyata Allah Memang Tidak Jauh Dari Kita.

Seorang teolog Injili bernama James Kennedy, pernah mengucapkan sebuah kalimat yang sangat bagus. “Pengalaman pribadi bersama Tuhan seumpama mendapatkan hadiah emas-berlian yang tak ternilai harganya, dan jangan pernah menyimpanya sendiri tetapi pakailah hadiah emas-berlian itu  supaya mereka melihat anda menikmati keindahanya dan mereka mendapatkan cahayanya”  Semua orang yang percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan dan itulah hadiah emas-berlian yang mahal harganya. Tetapi persoalanya adalah seringkali pengalaman itu disimpan begitu rapat sehingga baik yang mengalaminya tidak bisa memunculkan keindahanya, dan orang lain tidak mengalami cahayanya.

Mazmur 22 ini terkenal di kalangan umat Kristen, khususnya karena Yesus sendiri mengutip ayat 2 sebagai salah satu ucapan-Nya di atas kayu salib (Mat 15:34 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) Tetapi keunikan sesungguhnya dari mazmur 22 ini adalah caranya membahasakan perasaanya ketika dia menghadapi penderitaan.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Bagaimana penilaian saudara ketika membaca kalimat-kalimat pemazmur di ayat 20-22!
  2. Apa yang menjadi dasar ajakan pemazmur kepada saudara-saudara dan jemaah (23-27)?

Renungan:

Sekilas kita akan menilai ucapan-ucapan pemazmur sebagai sikap yang tidak sopan dan tidak pantas. Seolah-olah Tuhan dijadikan objek yang bisa diperintah dengan cara seenaknya untuk menolong pemazmur. Analogi yang dipakai pemazmurpun sepertinya sesuatu yang berlebihan. Dia meminta Tuhan melepaskanya dari cengkeraman mulut anjing dan singa, dari terkaman tanduk banteng. Tetapi ungkapan-ungkapan pemazmur itu dilatarbelakangi karena keintimanya dengan Tuhan yang sudah dikenalnya sejak zaman nenek moyangnya (ay. 3-12)

Bagi pemazmur Tuhan itu sangat dekat dengan dirinya, walaupun suatu ketika dia juga bisa mengalami kesulitan. Namun karena dia tahu bahwa Tuhan itu dekat denganya maka dia tidak memiliki batas atau jarak untuk berseru kepada Tuhan.

Keadaan dan pengalaman kedekatanya dengan Tuhan itu mendorong dia untuk menyaksikanya kepada saudara-saudara dan jemaah yang ada disekitarnya. Jika kita perhatikan ayat 23-27 semua menjelaskan bagaimana pemazmur mengekspresikan pengalaman pribadinya dengan Tuhan yang dekat denganya. Dia tidak mengada-ada atau mengarang apa yang disaksikanya kepada orang lain. Dari pengalaman nyata tentang pertolongan Tuhan yang dekat denganya itu membuat orang lain yang mendengar akan mendapat kekuatan dan berkat Tuhan seperti yang dirasakan dan dialami pemazmur sendiri. Indah sekali bukan?

Memang tidak bisa dipungkiri, masih banyak dari orang-orang percaya yang merasa sulit untuk menyaksikan pengalaman pribadinya dengan Tuhan, walaupun sebetulnya itu sesuatu yang sangat indah. Tetapi belajar dari pemazmur, kita pun bisa mulai belajar melakukanya. Tidak perlu muluk-muluk seperti kebanyakan orang yang hanya sekedar sensasi saja sehingga mengklaim diri selalu berjumpa muka dengan muka dengan Tuhan atau selalu mendengar bisikan Tuhan. Yang demikian justru bisa menakutkan orang yang mendengar, karena bisa jadi itu bukan mukanya Tuhan dan bukan suaranya Tuhan. Yang penting adalah bagaimana kehidupan yang berubah dari tidak baik menjadi baik akibat pengalaman peribadi yang dekat dengan Tuhan.

Di dalam setiap orang yang percaya Tuhan, pasti tersimpan emas-berlian yang indah. Bagikanlah melalui perubahan hidup dan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan. Itulah tanda bahwa Tuhan denkat denganmu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«