suplemenGKI.com

Rabu, 15 Juli 2015

14/07/2015

Mazmur 89:29-38

ALLAH INGKAR JANJI ?

 

PENGANTAR
Adakah judul renungan hari ini memunculkan pertanyaan?  Mungkinkah Allah yang setia itu ingkar janji?  Atau anda mempunya jawaban yang berbeda.  Namun, seandainya ‘benar’ bahwa Allah ingkar janji, apa maknanya bagi kita?  Mari kita membaca dan merenungkannya.

PEMAHAMAN

Ayat 29-30      :  Apa janji Allah kepada Daud dan keturunannya?

Ayat 31-32      :  Apa yang tidak boleh dilakukan oleh keturunan Daud?

Ayat 33-34      :  Apa konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan?

Ayat 35-36      :  Apa karakter Allah yang ditekankan di bagian ini?

Menurut anda, apakah mungkin Allah ingkar janji?Apa yang menjadi alasan jawaban anda?

Mana yang paling mungkin, Allah setia pada janji-Nya atau mengingkarinya?  Jawaban atas pertanyaan ini berpulang pada alasan yang mendasarinya.  Jika kita berfikir bahwa Allah tidak ubahnya seperti manusia ketika berjanji, maka sangat mungkin Ia tidak menepatinya.  Sebaliknya, jika kita percaya bahwa kebenaran dalam kata dan tindakan menjadi karakter Allah, maka jawabannya Allah selalu menepati apa yang dijanjikan-Nya.  Kalau demikian mengapa ayat 30, “Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya” menjadi bertentangan dengan ayat 33, “Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada”.  Bukankah “membalas” yang dimaksud pada ayat ini bisa berujung pada kematian.  Berarti Allah tidak setia dengan janji-Nya? Atau Allah sengaja tidak menepati apa yang pernah disampaikan-Nya mengenai keturunan Daud?

Tindakan Allah di ayat 33 tidak bisa dipahami sebagai pelanggaran janji.  Sebab tindakan itu sendiri bermula dari kondisi, “jika anak-anaknya meninggalkan TauratKu dan mereka tidak hidup menurut hukumKu” (ay.32) maka “Aku akan membalas pelanggaran mereka”.  Jadi tindakan Allah dapat dipahami sebagai konsekuensi dari ketidaksetiaan manusia kepada janji Allah.  Kesetiaan Allah diperjelas dengan pengakuan, “Aku tidak melanggar perjanjianKu, dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan kuubah” (ay.35) dan bahkan “sekali Aku bersumpah demi kekudusanKu, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud” (ay.36).   Sebenarnya Allah tidak perlu bersumpah.  Sikap ini hanyalah bermaksud memberikan penekanan kepada manusia bahwa Allah serius dengan janji-Nya.  Allah pasti membuktikan janji setia-Nya;  sebaliknya Allah juga mau manusia taat dan berpegang pada ikatan perjanjian tersebut.

Apapun yang menjadi pergumulan hidup kita hari ini, yakinilah bahwa kasih setia Allah tidak pernah beranjak dari kehidupan kita.  Allah “tidak akan berlaku curang dalam kesetiaan” (ay. 34).  Kalaupun Allah menghukum, sesungguhnya itu dimaksudkan agar kita kembali pada jalan ketaatan seturut dengan kebenaran firman-Nya.  Mari sambut janji setia Allah dengan sikap hidup terbaik yang dipersembahkan hanya kepada-Nya.  Jadi, benarkah Allah ingkar janji?

REFLEKSI
Mari merenungkan: Adakah pengalaman dalam hidup kita bahwa Allah itu ingkar janji?  Bagaimana kita merefleksi diri hidup kita di hadapan-Nya?  Ingatlah: Allah pasti setia dengan janji-Nya.  Biarlah kesetiaan Allah menjadi dasar kesetiaan kita kepada kebenaran-Nya.

TEKADKU
Aku mau belajar terus setia karena Allah telah menunjukkan kasih setiaNya kepadaku.

TINDAKANKU
Aku mau terus setia untuk …… (berdoa, beribadah, baca firman, melakukan perintah-Nya, dll)  meskipun ada banyak tantangan dalam hidup dan pelayananku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«