suplemenGKI.com

Kisah Para Rasul 6:1-7

 

Memecah Perpecahan

 

Bekerja di dalam situasi yang harmonis tentulah menyenangkan. Tapi tidak selalu kita bisa mendapatkan keharmonisan itu. Melalui renungan hari ini kita dapat belajar bagaimana memulihkan ketidakharmonisan tersebut.

- Apakah Saudara terlibat dalam pelayanan? Kalau tidak, selain karena waktu, apa yang menyebabkan Saudara enggan untuk melayani? Kalau ya, bagaimana suka duka Saudara dalam melayani?

- Dapatkah Saudara mengidentifikasi permasalahan yang timbul dalam bacaan kita hari ini? Mengapa permasalahan itu bisa timbul?

Renungan
Dapat dikatakan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang mengisahkan tentang perkembangan gereja. Dalam enam pasal pertama dari kitab ini kisah perembangan gereja sangatlah menggembirakan. Hal ini digambarkan secara ringkas dalam kalimat pembuka pasal 6 ini, “… jumlah murid makin bertambah …”. Kalau kita memperhatikan pasal-pasal sebelumya, maka kita dapat melihat perkembangan kekristenan pada waktu itu memang sangat signifikan. Dalam pasal kedua dari kitab ini dicatat bahwa pertambahan jumlah murid Kristus mencapai tiga ribu orang (Kis. 2:41). Nampaknya pertambahan ini terus berlanjut, sebab dalam ayat berikutnya dikatakan, “Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis. 2:47). Para murid itu bukan hanya bertambah secara jumlah, tapi juga semakin akrab. Setiap hari mereka berkumpul di Bait Allah, memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.

Namun gambaran yang indah itu kini tengah terancam, sebab timbul sungut-sungut di antara orang-orang kristen Yahudi yang berbahasa Yunani. Mereka ini umumnya adalah orang-orang Yahudi yang hidup di luar Palestina atau biasa disebut kaum diaspora. Kelompok ini berbeda dengan orang Ibrani, yang merujuk pada orang Yahudi yang berbahasa Aram dan kebanyakan lahir di Palestina.  Permasalahannya adalah pelayanan diakonia yang dirasa tidak merata. Situasi keruh ini dijernihkan secara bijak oleh para rasul dengan memperhatikan dua hal.

Pertama, para rasul kembali mengerjakan tanggungjawab utamanya. “Tidak baik kalau kami berhenti memberitakan perkataan Allah, karena harus mengurus soal-soal makanan” (ay. 2). Kadang yang menjadi penyebab kekacauan dalam kehidupan ini adalah ketika orang tidak lagi mengutamakan tanggungjawab utamanya. Kekacauan pelayanan itu menyadarkan para rasul akan tugas utamanya, dan mereka mau kembali pada tugas utama mereka, doa dan pelayanan Firman (ay. 4).

Kedua, para rasul mengangkat orang yang tepat. Para rasul memilih orang dengan kriteria yang sederhana, tapi tepat guna, yaitu: baik, penuh Roh dan hikmat (ay. 4). Kalau memperhatikan nama-namanya, kita dapat memperkirakan bahwa mereka adalah dari golongan orang-orang Yahudi berbahasa Yunani. Nampaknya mereka memang adalah para pemimpin dari kalangan orang Yahudi diaspora, sehingga mereka benar-benar memahami apa yang dibutuhkan.

Dengan kedua langkah ini, kericuhan dalam pelayanan dapat teratasi. Bila prinsip first thing first dan right man in the right place ini diterapkan dalam kehidupan pelayanan masa kini, maka akan ada banyak masalah pelayanan yang teratasi. Bagaimana dengan pelayanan kita?

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«