suplemenGKI.com

Mengikut Allah yang Maha Hadir

Mazmur 139:7-12

Pengantar

Kemarin kita telah merenungkan kemahatahuan Allah. Hari ini kita akan melanjutkan dengan merenungkan kemahahadiran Allah. Bagaimana pemahaman Allah yang maha ada itu mempengaruhi hidup kita? Hal inilah yang patut kita renungkan bersama hari ini.

Pemahaman

Ayat 7-12             : Menurut Saudara, sifat kemahahadiran Allah itu terkait
dengan konsep ruang/tempat atau waktu?
Mengapa demikian?

Ayat 7-12             : Ada berapa banyak kata “jika” dalam perikop kita hari ini?
Apa saja yang dipaparkan melalui ungkapan-ungkapan
pengandaian itu?

Selama ini kerap kali, atau bahkan mungkin malah selalu, kita menghubungkan kemahahadiran Allah dengan konsep ruang/tempat. Dan memang hal ini tidak salah. Pemazmur sendiri menggambarkan kemahahadiran Allah dengan menyebutkan beberapa lokasi, baik secara vertikal, langit (di atas) dan dunia orang mati (di bawah), maupun secara horizontal, ujung laut (dapat dipahami dari ujung ke ujung). Langit dianggap sebagai lokasi yang tidak terjangkau oleh manusia, sedangkan dunia orang mati seringkali dianggap sebagai dunia yang terpisah dari Allah. sementara itu, ujung laut juga menggambarkan lokasi yang sangat jauh bahkan tidak terjangkau oleh manusia. Pada semua lokasi yang paling tidak terjangkau itu, Pemazmur menyatakan bahwa Allah ada di sana.

Namun Pemazmur tidak hanya berbicara tentang ruang saja, tetapi juga tentang waktu. Konsep “terang” dan “gelap” yang disebut dalam ayat 11-12 sebenarnya bukan hanya terkait dengan tempat yang gelap dan terang, tetapi – sebagaimana muncul dalam beberapa terjemahan – istilah itu berarti siang dan malam juga. Dengan demikian kemahahadiran Allah itu berarti Allah hadir di mana saja dan kapan saja.

Pemazmur merespon kemahahadiran Allah ini juga secara positif. Sebab ke manapun Pemazmur pergi, tangan Allah ada di sana untuk menuntun Pemazmur (ay. 10). Sebagai perbandingan dari paparan Pemazmur ini, kita dapat mengingat bagaimana nabi Yunus berusaha melarikan diri dari Allah, tetapi toh tangan Allah tetap membimbing nabi Yunus.

Refleksi

Dalam menjalani kehidupan ini, marilah kita mengingat bahwa Allah selalu ada di mana saja kita berada, untuk menuntun kita pada jalan yang seharusnya. Dia tidak pernah meninggalkan kita tersesat.

Tekad

Doa: Tuhan, terimakasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan saya. Tolong saya untuk tetap mengikut Engkau dengan setia, di mana saja dan kapan saja. Amin.

Tindakan

Selama seminggu ini, saya akan meluangkan waktu setiap malam selama 10 menit untuk mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang hari ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«