suplemenGKI.com

Tema kebaktian kita pada minggu yang akan datang adalah “Dipanggil untuk Menyatakan Kemuliaan Allah”.  Karena itu selama beberapa hari ini dalam renungan 4B kita akan diajak memahami apakah wujud panggilan Allah dan bagaimana menghidupi panggilan Allah. Jika kemarin kita diajak merenungkan bahwa panggilan Allah adalah kesediaan untuk melakukan apa yang Allah kehendaki, secara khusus kemarin kita berbicara tentang kesediaan menyatakan teguran firman Tuhan kepada mereka yang hidup melenceng dari Tuhan, bahkan orang-orang terdekat kita. Hari ini kita akan melihat sisi lain dari panggilan Allah dan tentunya cara kita menjawab panggilan tersebut.

  1. Bacalah pasal 2:22-25: Apakah perbedaan yang menonjol antara Hofni dan Pinehas (anak-anak Imam Eli) dengan Samuel dalam meresponi suara Tuhan?
  2. Bacalah juga pasa 2: 29 dan 3: 13b, apakah perbedaan antara Imam Eli dengan Samuel di pasal 3: 15-16 dalam hal keseriusan mereka melawan dosa dan menyampaikan teguran Tuhan?
  3. Dari bahasan bacaan Alkitab hari ini, bagaimana Anda mengartikan wujud lain dari panggilan Tuhan? Bagaimana cara yang tepat untuk menjawab panggilanNya?

 

Renungan  

Hofni dan Pinehas mengabaikan teguran-teguran yang ditujukan kepada mereka. Mereka menunjukkan sikap meremehkan teguran Tuhan, meremehkan perbuatan mereka yang sesungguhnya merupakan kekejian bagi Allah. Samuel justru sebaliknya, dalam kemudaan usianya dan pengenalan yang masih baru terhadap Tuhan ternyata ia justru lebih peka dan tanggap dengan suara Tuhan. Imam Eli pun tidak jauh berbeda dari anak-anaknya.  Tuhan melihat Imam Eli tidak pernah serius menangani anak-anaknya, karena lebih takut kepada anak-anaknya daripada takut kepada Tuhan. Tuhan melihat bahwa tidak cukup kehidupan Imam Eli sebagai orangtua dan imam yang hanya memperingati agar anak-anaknya menjauhi dosa, tetapi tidak menunjukkan usaha yang keras untuk melawan dosa dan membimbing anaknya melakukan yang benar. Sungguh berbeda dengan Samuel muda yang berani menyampaikan teguran firman Tuhan kepada Imam Eli, dan untuk itu Samuel harus melawan rasa segan dan memaknai keseganan terhadap Imam Eli dalam bentuk yang berbeda. Dengan demikian, dapat kita simpulkan panggilan Allah  juga berarti panggilan untuk hidup total di jalan Allah. Kehidupan Samuel di tengah-tengah keluarga Imam Eli sungguh menunjukkan kepada kita dua sisi yang berbeda dari cara-cara manusia menanggapi panggilan Allah.  Yang Allah kehendaki adalah kita mau melembutkan hati mendengar teguranNya atas dosa kita, dan kita menjawab panggilanNya bukan hanya dengan mengetahui apa yang benar dan salah, bukan dengan hanya menghindari dosa, bukan hanya memperingatkan, melainkan sungguh-sungguh berjuang keras untuk mau melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bukan berpuas dengan tidak menjahati orang, tetapi sungguh-sungguh mengasihi orang.  Bukan hanya berpuas dengan tidak mencuri, tetapi bekerja dengan sungguh-sungguh menggunakan segenap kemampuan.  Secara total hidup di jalan Allah dan mengikuti cara-cara Allah.

 

Hidup di jalan Allah berarti hidup dengan mewarisi sifat-sifat Allah, waktu Allah, dan rencana Allah dalam hidup kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • Anggariasih says:

    Mohon untuk copy untuk referensi kotbah. Trimakasih Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*