suplemenGKI.com
Siapakah

Siapakah

Mazmur 89:1-19

  “Siapakah seperti Tuhan?”

Mazmur 89 adalah sebuah Mazmur yang dimulai dengan sebuah pernyataan tekad Pemazmur untuk bernyanyi tentang kasih setia Tuhan, “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun”. Tentu ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari Mazmur ini, karena ini adalah Mazmur pengajaran. Oleh sebab itu mari kita renungkan bersama.

-  Kalau hari ini Saudara dipersilahkan memilih sebuah lagu pujian bagi Tuhan, lagu apakah yang akan Saudara pilih? Mengapa Saudara memilih lagu tersebut?

-  Bagaimanakah Pemazmur menggambarkan tentang kasih setia dan kemahakuasaan Allah? dan apa respon Saudara setelah memahami semuanya itu?

Renungan

Pemazmur mengajukan pertanyaan, “Siapakah seperti Tuhan?” (ay. 7 dan 9) untuk menggambarkan kebesaran Tuhan. Ini adalah pertanyaan retoris yang jawabannya sudah pasti, tidak ada. Tidak ada yang sama seperti Allah, baik yang ada di langit, di surga. Ada banyak masyarakat di lingkungan sekitar bangsa Israel yang kagum terhadap tentara langit. Mereka merasa sumber rejeki mereka berasal dari bala tentara langit tersebut, sehingga akhirnya mereka sujud menyembah bala tentara langit itu. Hal ini dapat dilihat dari dewa-dewi yang mereka sembah. Sebagian di antara mereka menyembah dewa bulan, sebagian lagi menyembah dewa matahari, dsb. Di dalam kitab Ulangan 4:19 Allah dengan tegas melarang umat-Nya untuk melakukan penyembahan semacam itu, “dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka”. Pemahaman inilah yang ditegaskan oleh Pemazmur bahwa tidak ada yang seperti DIA, karena memang hanya Allah sajalah yang memiliki otoritas atas segalanya.

Untuk mempertegas otoritas Allah atas segalanya, Pemazmur memberikan gambaran tentang kemahakuasaan Allah. Bukan dewa matahari, bukan pula dewa bulan, atau dewa-dewi yang lainnya, tetapi hanya Allah sajalah yang sanggup menaklukkan segala kuasa yang ada di dunia, bahkan yang juga dipercayai mengandung unsur mistik. Hanya Allah sajalah yang sanggup untuk menguasai gelombang laut sehingga dapat mengendalikan kecongkakan laut dengan memerintahkannya maupun dengan dengan meredakannya. Bahkan Tuhan pulalah yang meremukkan Rahab, sebutan untuk binatang raksasa yang menghuni laut purba. Di tempat lain binatang purba raksasa itu disebut ular naga atau Lewiatan (Maz. 74:13b-14; Ayb 3:8; 7:12; Yes. 27:1; 51:9).

Kemahakuasaan Allah itu kemudian dihubungkan Pemazmur dengan status Allah sebagai Pemilik seluruh alam semesta, baik langit maupun bumi, karena Dialah Pencipta dunia ini, Dialah yang mendasarkan dunia serta segala isinya. Dalam bagian yang lain kita dapat menemukan pengajaran bahwa bumi ditegakkan Tuhan di atas air (Maz. 24:2) dan dikokohkan dengan tiang-tiang (Maz. 75:4; 104:5), sehingga tidak akan goyah (Maz. 46:3; 93:1; 96:10). Mulai dari utara sampai selatan, baik gunung Tabor maupun gunung Hermon, semuanya bersorak sorai karena nama-Nya. Setiap kita yang menyadari betapa dahsyatnya Allah itu pasti juga akan bersorak sorai karena nama-Nya.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»