suplemenGKI.com

Mazmur 133

RUKUN = KEMERDEKAAN HIDUP BERSAMA

 

Pengantar
Salah satu keunikan bangsa Indonesia adalah keragamannya. Ada banyak suku bangsa, bahasa dan agama/kepercayaan dengan tradisinya  masing-masing.   Mudah tidaknya mengelola entitas bangsa yang seperti ini sangat bergantung pada komitmen bersama.  Perikop yang kita baca hari ini mengajarkan salah satu komitmen, yaitu rukun yang  identik dengan kemerdekaan dalam hidup bersama.

 

Pemahaman
Ayat 1:  situasi “baik” seperti apakah yang digambarkan oleh pemazmur di bagian ini?

Ayat 2, 3:  ilustrasi apakah yang dipakai pemazmur untuk menggambarkan situasi yang “baik” itu?

Ayat 3a:  kehendak Tuhan seperti apa yang dimaksud pemazmur di bagian ini?

 

Hidup memang penuh persaingan bahkan sebelum kita menjadi janin, sel sperma kita sudah bersaing dengan jutaan sel sperma lainnya untuk dapat sampai ke satu sel telur.  Dan nyatanya kita bisa menjadi pemenang dengan dilahirkan  ke dunia  tanpa harus adu otot.  Sayangnya, hari ini kita disajikan dengan banyak pertikaian yang berujung pada penggunaan otot, kekuasaan, dan uang demi menentukan satu pemenang.  Hanya karena perbedaan tafsir dan keyakinan, satu kelompok mengejar dan membunuh kelompok lain,.  Hanya karena perbedaan etnis, satu kelompok menghalangi kelompok lain. Parahnya,  beberapa isu kekerasan justru ‘melibatkan’ nama Tuhan.  Benarkah Tuhan pencipta semesta menghendaki kekerasan?  Ironis bukan!

 

Justru pemazmur memahami sebaliknya.  Ayat 133 mengungkap maksud Tuhan bagi umat, “ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (ayat 3a).  “Berkat” yang dimaksud mengacu pada keadaan seperti disebutkan di ayat 1, “sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” (ayat 1).   Kuncinya ada pada kata “rukun” atau unity (AV).  Artinya, bukan soal keseragaman (semua dipaksa sama) tetapi tentang keragaman yang harus dikelola dengan bijak.   Bagaimanapun perbedaan adalah realita yang tidak bisa dipungkiri.  Maka “rukun” juga berarti memberi “ruang” bagi yang lain untuk mempunyai  hak yang sama dalam tata kelola hidup bersama.  Wajar bila rukun kemudian dipahami sebagai kemerdekaan dalam hidup bersama.  Jadi seperti pepatah Jawa mengatakan, rukun agawe santoso crah agawe bubrah.  Pepatah ini mengajak kita untuk belajar menyesuaikan diri demi menjaga persatuan agar menjadi negara/keluarga yang kuat.   Sudahkah kita belajar memahami dan menerima yang lain dalam kebersamaan yang saling menghargai?

 

Refleksi
Kerukunan adalah upaya sadar untuk mengelola yang berbeda dalam kebersamaan yang saling memahami.

 

Tekadku
Aku mau belajar menghargai perbedaan.

 

Tindakanku
Aku mau mewujudkan kerukunan dengan kesediaanku mau menerima yang lain sebagai bagian dari panggilan hidup dari Tuhan untuk menjadi berkat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«