suplemenGKI.com

KELUARGAKU TIDAK EGOIS

2 Raja-Raja 5:1-4

 

PENGANTAR
“Sebenarnya, aku ngerti apa yang dia bilang.  Aku pun setuju.  Tak masalah dengan itu.  Tapi sengajalah aku tolak, supaya dia tahu siapa aku ini.  Aku kan senior. Masak harus selalu dengar apa yang dia bilang. Gengsi lah aku!”.  Cuplikan respons ini hanyalah contoh, tapi sangat mungkin ada dalam realita kehidupan. Di sisi lain, juga menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi bukan hanya ditentukan dari tersedianya informasi dan penyampaiannya, tetapi juga ditentukan dari sikap hati yang mempertimbangkan orang lain.  Sikap egois cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain.   Bacaan hari ini mengajak kita untuk tidak egois, termasuk dalam konteks hubungan keluarga.  Mari kita baca dan renungkan.

PEMAHAMAN

  • Persoalan apa yang sedang terjadi di keluarga Naaman? (ayat 1)
  • Apa yang anak perempuan itu lakukan bagi keluarga Naaman? (ayat 2, 3)
  • Bagaimana respons keluarga Naaman setelah menerima saran? (ayat 4, 5)

Kesamaan latar belakang tidaklah menjamin komunikasi berjalan dengan baik.  Terlebih lagi bila para pihak yang terlibat komunikasi berbeda latar belakang.  Terlalu beresiko membangun komunikasi dengan perbedaan latar belakang yang besar.  Maksud baik ingin membantu, bisa jadi diterima dianggap menggurui atau bahkan merendahkan lawan bicara.  Teks 2Raj.5:1-4 berkisah tentang seorang gadis Yahudi yang bekerja sebagai hamba di kediaman Naaman.  Ia berada di negeri asing dan bekerja untuk seseorang yang berbeda suku bangsa dan keyakinan iman dengannya.  Situasi yang sangat tidak mudah.  Penuh dengan tantangan dan resiko.  Pilihan paling aman: fokus pada pekerjaan dan tidak peduli dengan lingkungannya. 

Gadis Yahudi ini memilih keluar dari kungkungan budaya dan keyakinannya.  Ia memilih membangun jembatan kehidupan dengan tuannya, yang berbeda suku dan keyakinan.  Ia tidak egois dan berani menyampaikan bahwa ada abdi Allah di Samaria yang dapat menolong tuannya, sembuh dari sakit. Sikap gadis Yahudi ini mengisyaratkan bahwa Allah yang dikenalnya adalah Pribadi yang mengasihi semua orang.  Sadar atau tidak, sikapnya yang tidak egois telah membuka keselamatan bagi pribadi dan bangsa lain.  Bak gayung bersambut, Naaman pun menerima dan mengalami kesembuhan, ketika ia menindaklanjuti informasi yang diberikan.  Kesediaan Naaman membangun komunikasi dan juga keyakinannya untuk sembuh menjadi jalan bagi terbukanya kehidupan yang lebih baik. 

Pengalaman Keluarga Naaman dan gadis Yahudi seharusnya juga menjadi bagian dari komitmen keluarga masa kini, yaitu saling peduli dan tidak egois.  Coba bayangkan bila masing-masing anggota keluarga dengan alasan latar belakang atau keunikannya, lalu tidak membangun komunikasi?  Bagaimana kemudian bisa saling peduli? Bila komunikasi ‘disepakati’ menjadi pintu memahami kondisi masing-masing, maka tiap anggota keluarga harus menemukan alasan untuk berkomunikasi.   Mari bersama keluarga, kita kembangkan sikap yang saling peduli melalui komunikasi yang terus dilakukan di dalam kasih. Hati egois hanya bisa dikalahkan di dalam kasih. 

REFLEKSI
Mari merenungkan: kepedulian belum tentu didasarkan pada kasih.  Sebaliknya, kasih selalu menghadirkan kepedulian kepada sesama.  Jadi mari kita tumbuhkan kasih yang peduli melalui komunikasi bersama keluarga dan sesama. 

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran Firman-Mu.   Aku bertekad untuk menyatakan kasih dan kepedulian kepada keluarga melalui komunikasi yang saling membangun. 

TINDAKANKU
TUHAN, hari ini aku mau mewujudkan kasih dan kepedulian kepada keluarga melalui komunikasi dan sikap yang tidak egois. Mampukan aku untuk melakukannya dengan penuh kesetiaan dan kesungguhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«