suplemenGKI.com

Rabu, 11 Mei 2016

10/05/2016

Roh Tuhan Memperbaharui Kehidupan

Mazmur 104:24-35

 

Pengantar

Perubahan sebenarnya terus berlangsung sepanjang masa. Namun setengah abad yang lalu perubahan tidak terjadi sedemikian cepat seperti yang kita alami saat ini, sehingga manusia tidak begitu merasakannya. Dewasa ini kita hidup di era yang ditandai dengan berbagai perubahan sangat cepat dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Siapa yang tidak mau ikut berubah akan “tertinggal”. Berkat perubahan dan kemajuan teknologi, kita bisa memesan buku digital hanya dalam hitungan menit atau memesan pizza dengan jasa Go-Jek atau semacamnya yang pemesan dan pemantauan pengirimannya bisa kita lakukan melalui smart-phone kita.

Jika manusia yang ciptaan Tuhan mampu mewujudkan perubahan-perubahan yang demikian spektakuler, bukankah Tuhan, Sang Maha Pencipta mampu melakukan segala sesuatu, terutama memperbaharui karakter dan kehidupan manusia yang telah “rusak” sekalipun.

Pemahaman

Ayat 24-26      : Menurut Saudara, apa yang ingin diungkapkan Pemazmur melalui kata-kata dalam ayat-ayat ini?

Ayat 27-28      : Bisakah kita melihat betapa semua mahluk bergantung kepadaNya?

Ayat 29-30      : Apa makna pernyataan dalam ayat-ayat ini, bahwa Allah mampu mengambil dan memberi roh? Untuk apa Allah mengirim RohNya?

Ayat 31-35       : Mampukah kita merespons kemahabesaran Allah seperti Pemazmur?

Pemazmur ingin mengakui, bahwa dengan hikmat atau kebijaksanaanNya, Tuhan, Sang Maha Pencipta menciptakan segala sesuatu. Bumi penuh dengan ciptaanNya. Jelas hikmat Sang Maha Pencipta jauh di atas kebijaksanaan segala makhluk ciptaanNya, termasuk manusia. Selain itu Pemazmur mengajak kita untuk menyadari, bahwa pada hakekatnya kehidupan semua makhluk sangat bergantung pada Sang Pencipta yang berkuasa, baik untuk mengambil roh mereka maupun untuk menganugerahkan RohNya yang memberi dan memperbaharui hidup manusia. Dengan kata lain, Dialah yang menjadi penyebab adanya kehidupan. Hal ini sangat jelas dalam format pernyataan, “Engkau yang……” (ay. 10, 13, 14, dsb). Seyogyanya kita mampu merespons kebesaranNya dengan menaikkan pujian bagiNya seumur hidup kita (ay. 33), serta merenungkan segala keagunganNya (ay. 34). Ada hubungan erat antara pujian dan perenungan. Orang yang menyanyi tanpa perenungan akan menaikkan pujian tanpa penghayatan, sehingga pujian yang dilantunkannya akan dangkal, tidak akan menyentuh hati/emosi orang yang mendengarkan pujian tersebut.

Refleksi

Mampukah aku dengan segenap jiwa dan raga mengakui kebesaran Allah, Sang Maha Pencipta seperti yang dilakukan Pemazmur?

Tekad

Membiarkan RohNya bebas bekerja memperbaharui hidupku senantiasa.

Tindakan

Memuliakan Dia melalui perkataan dan perbuatan, bahkan dengan seluruh hidupku yang telah diperbaharui olehNya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»