suplemenGKI.com

Tema ”penyangkalan diri dalam kebebasan” telah muncul sejak 1 Kor 6:12 dan diaplikasikan dalam berbagai bidang: makanan, perkawinan, hukum Taurat, dan makan daging persembahan berhala.  Di pasal 9 Paulus juga memberi kesaksian diri mengenai ”penyangkalan diri” ketika ia memutuskan untuk tidak menggunakan haknya sebagai rasul (9:1-18) dan ketika ia menempatkan dirinya sebagai hamba bagi semua orang (9:19-23). Bacaan kita Minggu ini (9:24-27) merupakan bagian aplikatif dari kesaksian diri Paulus yang dituliskan di bagian sebelumnya.  Paulus mendorong mereka berjuang keras (dalam hal ini, menyangkal diri) agar dapat ambil bagian dalam Injil.  Selain kesaksian dirinya, Paulus juga menggunakan upaya keras ”penyangkalan diri” para atlet sebagai ilustrasi.

1.    Ay. 24-25.  Paulus membandingkan kehidupan orang-orang Kristen dengan para atlit yang sedang berlari untuk memperoleh hadiah.  Apa yang hendak diajarkan Paulus melalui perbandingan/ perumpamaan ini?

2.    Ay. 26.  Paulus juga menggambarkan dirinya sebagai seorang pelari dan seorang petinju.  Apa yang ditegaskan Paulus melalui gambaran ini?

3.    Ay. 27.  Dengan penguasaan diri yang diterapkan dalam hidupnya, apa yang hendak dicapai oleh Paulus?

4.    Dalam hal apakah Anda sulit menguasai diri?  Apa dampaknya bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda?  Bagaimana Anda berusaha mengatasi hal tersebut?

Renungan:

Orang-orang Korintus sudah akrab dengan lomba lari yang sering diadakan di sana pada masa itu (minimal setahun sekali).  Paulus mendorong mereka meneladani para atlet ini.  Meski hanya seorang yang mendapat hadiah, namun semua pelari berjuang dengan keras.  Mereka ”menguasai diri dalam segala hal”, meski hadiah yang akan mereka terima adalah mahkota yang fana (yang berupa karangan bunga atau untaian daun).  Para atlit itu harus ”menguasai diri” karena selain harus berlatih dengan tekun dan disiplin, mereka juga harus diet agar bentuk dan kondisi tubuh mereka tetap prima.

Paulus memperkuat nasihat tersebut, sekali lagi, dengan kesaksian dirinya sendiri.  Dia tidak mau menjadi pelari yang berlari tanpa tujuan atau petinju yang sembarangan memukul.  Untuk itu Paulus harus melatih tubuhnya.  Istilah yang digunakan Paulus, ”melatih tubuh”, secara hurufiah berarti memukul bagian bawah mata hingga berwarna hitam atau biru.  Isitilah ini dipadukan dengan istilah ”menguasai” yang secara hurufiah berarti ”memperbudak” (bandingkan 9:19).

Semua itu dilakukan Paulus karena dia tidak ingin hanya menjadi seorang pemberita.  Paulus juga ingin ambil bagian dalam Injil itu.  Ini berbeda dari para keryx (pewarta) dalam pertandingan-pertandingan olahraga bangsa Yunani yang hanya bertugas mengumumkan peraturan permainan, namun tidak ikut bermain.  Para pewarta Injil tidak hanya memberitakan Injil, namun juga harus hidup di dalam Injil itu.

Pemberita Injil sejati bukan hanya menggunakan kata-katanya, melainkan juga seluruh hidupnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*