suplemenGKI.com

Efesus 5:15-21

ROH DAN RELASI

PENGANTAR
Sebagai orang beriman, kita telah menerima bagian dalam kasih dan karya penebusan Kristus yang memindahkan kita dari kegelapan kepada terang (Ef. 5:2,8a). Setelah itu, bagaimana?   Rasul Paulus dengan jelas mengatakan bahwa kita harus hidup sebagai anak-anak terang (5:8b). Artinya, kasih dan karya penebusan Kristus yang telah kita terima itu harus berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanakah caranya? Rasul Paulus menjelaskannya dalam bacaan kita hari ini.

PEMAHAMAN

  • Ay. 15-18.  Apa yang harus kita lakukan untuk hidup sebagai anak-anak terang? Sebutkanlah minimal tiga hal, dan jelaskan hubungan di antara ketiga hal tersebut. Apa artinya “penuh dengan Roh” (ay. 18)?
  • Ay. 19-21.  Bagaimanakah dampaknya terhadap relasi kita dengan Allah dan sesama? Sebutkanlah dua hal. Apa hubungan di antara kedua hal tersebut?

Dalam ayat 15-18, Paulus menguraikan tiga sikap yang diperlukan untuk hidup sebagai anak-anak terang. Setiap sikap itu disandingkan dengan sikap negatif yang merupakan lawan dari sikap tersebut.  Ketiga pasang sikap positif-negatif tersebut digunakan untuk menggantikan kiasan terang–gelap yang digunakan sebelumnya.

Pertama (ay.15-16), bersikap arif (tidak bersikap bebal).  Sikap ini secara praktis ditunjukkan dengan sikap mereka terhadap waktu.  Orang yang arif akan menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk melakukan kebaikan di tengah masyarakat yang cenderung berbuat jahat.  Kedua (ay.17), berusaha memahami apa kehendak Tuhan (tidak bersikap bodoh).  Ketiga (ay.18-20), penuh dengan Roh (tidak mabuk sehingga mengikuti hawa nafsu).  Meski merupakan pasangan-pasangan yang paralel, kita dapat melihat hubungan yang jelas di antara ketiga hal tersebut: agar dapat bersikap arif kita harus berusaha mengerti kehendak Tuhan, dan agar mengerti kehendak Tuhan kita harus penuh dengan Roh. Penuh dengan Roh berarti menundukkan diri di bawah kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita.

Hidup penuh dengan Roh ternyata berdampak terhadap relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Ada dua hal yang disebutkan oleh Rasul Paulus di bagian ini. Pertama, Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita menolong kita untuk melakukan ibadah bersama dengan penuh sukacita (ay. 19) dan pengucapan syukur (ay. 19-20). Kedua, dalam relasi kita dengan sesama, Roh Kudus memampukan kita untuk saling merendahkan diri (ay. 21).  Ibadah bersama erat hubungannya dengan sikap saling merendahkan diri. Sikap hormat kepada Allah yang ditunjukkan dalam ibadah bersama harus dibarengi dengan sikap saling menghormati ketika berelasi dengan sesama.

REFLEKSI
Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita bukan hanya memulihkan relasi kita dengan Allah, melainkan juga relasi kita dengan sesama.

 

TEKADKU
Tuhan, di hadapan-Mu aku mengaku masih sering menganggap remeh atau memandang rendah mereka yang aku anggap memiliki kekurangan tertentu. Ampunilah aku, ya Tuhan.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan berdoa secara khusus bagi seseorang yang selama ini aku anggap remeh. Aku akan berdoa agar Tuhan memberkati kehidupannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«