suplemenGKI.com

Mazmur 90:1-10.

 

Kefanaan Manusia Di Hadapan Kemahakuasaan Tuhan

 

            Tidak banyak orang yang menyadari keadaan diri yang sebenarnya. Ketidakmampuan untuk  menyadari siapa dirinya adalah merupakan awal dari persoalan dalam hidupnya. Itu sebabnya pemazmur dalam Mazmur 19:13b “Bebaskan aku dari apa yang tidak kusadari” adalah merupakan sebuah pengakuan atas ketidakmampuannya untuk menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan. Dampak paling riil dari ketidakmampuan menyadari siapa diri di hadapan Allah adalah seseorang akan menganggap diri allah, lalu kemudian mencoba mengatur Allah baik dalam doanya maupun dalam sepak terjang kehidupannya. Di hadapan sesama ia akan merasa paling baik, paling berkuasa dan paling benar dari orang lain, di hadapan alam semesta ia merasa segala sesuatu berhak diperlakukan dengan seenaknya sehingga tidak punya hati untuk bersyukur atas apapun yang ada di sekitarnya. Hari ini kita akan belajar dari doa Musa, seorang abdi Allah yang mampu menyadari siapa dirinya di hadapan Allah.

 

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang mendorong pemazmur untuk menyadari siapa dirinya di hadapan Allah?
    a. Siapakah Allah menurut pandangan pemazmur? (1-5)
    b. Siapa manusia di hadapan Allah menurut pandangan pemazmur? (3,5,7,8 dan 10)
  2. Seberapa besar manusia harus bergantung kepada Allah?

 

Renungan:

            Mazmur 90 ini mempunyai kerangka yang bersifat sebab – akibat. Sebab manusia begitu lemah maka manusia tidak sanggup melewati hari-harinya tanpa penderitaan, kesulitan dan pergumulan. Akibatnya hari-hari hidup manusia hanya diwarnai oleh kesukaran dan penderitaan belaka. Kondisi demikian mengantar pemazmur pada sebuah kesadaran bahwa dirinya adalah lemah, tidak berdaya dan fana adanya.

Kemudian, Allah adalah pribadi yang kuat, perkasa sehingga layak menjadi tempat perteduhan sepanjang masa. Allah juga berdaulat mengatur waktu, menentukan hidup – mati manusia sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Apapun yang dialami manusia tidak pernah terlepas dari kedaulatan Allah. Terkadang dinamika yang manusia alami dalam kehidupannya adalah merupakan reaksi dari gemasnya Allah terhadap manusia. Jika manusia mulai nakal, tidak dengar-dengaran kepada Allah maka dinamikanya akan semakin sulit, sebaliknya jika manusia setia berjalan sesuai dengan  aturan main Allah maka ada damai sejahtera yang mengikutinya.

Manusia dalam segala keterbatasan dan kelemahannya, selain tidak sanggup untuk menolong dirinya di dalam menghadapi atau melewati dinamika kehidupan yang tidak mudah, juga tidak sanggup  menerima ganjaran yang Allah berikan sebagai didikan baginya. Dalam keadaan demikianlah maka manusia hanya dituntut: ketaatan, kesetiaan dan rendah hati untuk mengikuti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya. Ketika manusia bersedia taat, setia dengan rendah hati maka niscaya rancangan Allah itu menjadi segala-sesuatu yang indah dalam hidupnya, bukan menjadi sebuah hukuman, penghancuran  atau kefatalan dalam hidupnya.

Jadi karena kefanaan manusia itu maka tidak dapat dipungkiri, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kita perlu bergantung secara totalitas kepada kehendak Allah yang berdaulat dalam seluruh aspek kehidupan kita. Ketika kita mengakui kebergantungan kita kepada kehendak Allah, maka sesulit apapun benan hidup kita, niscaya kita dapat melewatinya bersama Tuhan dengan damai sejahteran, itulah sebenarnya yang menjadi karakteristik pemazmur dalam bagian ini, yaitu bergantung secara totalitas kepada kedaulatan Allah dalam hidupnya dan mengikuti rencana Allah dengan setia. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«