suplemenGKI.com

RENDAH HATI UNTUK MELAYANI

Yohanes 1:6-8, 19-28

 

Pengantar
Pujian, sanjungan, kehormatan adalah hal yang menarik untuk dirasakan. Bahkan sensasi rasa ini seringkali membuat kita fokus mengejarnya tanpa ingat lagi yang seharusnya dituju. Pencitraan, itulah kata yang dapat mewakili motivasi salah tersebut. Seorang karyawan akan dengan semangat dan giat menyelesaikan pekerjaannya demi pujian dari sang pemimpin, bukan sebagai bentuk dedikasinya untuk perusahaan. Apakah ini yang sedang kita jalani? Mari kita renungkan.

Pemahaman
-Mengapa Allah mengutus Yohanes (Pembaptis)?
-Apa respon Yohanes atas pertanyaan yang dilontarkan para Imam, orang Lewi dan Farisi?
-Nilai hidup apakah yang dapat kita pelajari dari sosok Yohanes?

Adalah seorang bernama Yohanes, ia adalah manusia biasa yang diutus untuk membuka jalan bagi Sang Terang, Yesus. Ia menjadi saksi akan Terang, supaya semua orang tahu dan percaya  terang itu sedang hadir dalam dunia. Tidak hanya menjadi saksi secara verbal namun Yohanes juga membaptis, inilah yang memunculkan julukan sebagai Yohanes pembaptis. Tindakan yang dilakukan oleh Yohanes ini kemudian menuai kontraversi. Imam, orang Lewi dan Farisi diutus untuk menanyakan siapakah sosok Yohanes. Dengan penuh curiga mereka bertanya “Siapakah engkau? Mesias? Elia? Engkaukah nabi yang akan datang?”. Dengan lantang Yohanes menjawab “Aku bukan Mesias! Bukan Elia! Bukan nabi!” Yohanes tidak dengan tinggi hati mengaku bahwa dirinya adalah sosok super yang dinanti umat waktu itu. Yohanes sadar bahwa dirinya hanya utusan pembawa kabar kehadiran Sang Terang. Dalam respon atas kecurigaan orang Farisi melihat praktik baptisannya Yohanes mengungkapkan bahwa ia hanya membaptis dengan air, namun dalam proses itu kemudian hadirlah Sang Terang yang memiliki kuasa. Bahkan “Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”, untuk mengerjakan pekerjaan yang lazim dilakukan budak pada zaman itu pun Yohanes merasa tidak layak.

Yohanes pembaptis, seorang yang melayani dengan penuh kerendahan hati. Utusan yang penuh dedikasi tidak mendasari perbuatannya atas kepentingan dirinya sendiri. Yohanes menjalani perutusannya dengan sepenuh hati dan untuk kemuliaan Sang Pengutus bukan untuk mencari citra baik dirinya dihadapan orang banyak. Sekarang, saatnya kita untuk meneladani kerendahan hati Yohanes. Maukah kita melayani dengan rendah hati tanpa memandang kepentingan diri sendiri?

Refleksi
Renungkan sejenak, motivasi apa yang selama ini mendasari pelayanan anda? Sudahkah anda sadar bahwa bukanlah pencitraan yang dilakukan dalam melayani? Sudahkah anda melayani dengan kerendahan hati?

Tekadku
TUHAN mampukanku untuk senantiasa rendah hati dalam melayani, dimanapun tempatku melayani.

Tindakanku
Saya akan memberikan pelayanan yang terbaik tanpa mengharapkan pujian orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«