suplemenGKI.com

Rabu, 10 April 2013

09/04/2013

BELAJAR DARI PEMAZMUR

Mazmur 30:2-13

 

Pengantar
Seorang pengusaha membangunkan seorang nelayan yang sedang tidur di pinggir perahunya.  Dengan gundah pengusaha itu lantas bertanya, “mengapa bapak tidur di jam yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja giat?” Nelayan itu menjawab, “mengapa aku harus melakukan itu?”  “Bukankah dengan bekerja giat, bapak bisa punya banyak uang, menabung dan membeli beberapa kebutuhan. Bapak bisa menikmati hidup ini!” jawab sang pengusaha. “Menikmati hidup?  Bukankah dari tadi itu yang aku lakukan sebelum bapak bangunkan!,” Jawab sang nelayan.  Mendengar itu, pengusaha itu lantas pergi karena malu.  Haruskah menikmati hidup/bersyukur ditentukan dari apa yang kita punya dan tidak?!   Lantas ditentukan oleh apa?  Mari kita belajar dari pemazmur!

 Pemahaman

  • Apa yang dilakukan pemazmur ketika mengingat Tuhan dan apa isi ungkapan syukurnya? (ayat 2-4)
  • apa ajakan dan alasan dibalik ungkapan syukur pemazmur? (ayat 5-6) 
  • apa yang jemaat pelajari dari kehidupan doa pemazmur? (ayat 7-11)
  • bagaimana pemazmur menggambarkan perubahan hidupnya? (ayat 12)

Litani ini bukan sekadar mewakili ungkapan syukur pemazmur tetapi juga umat yang terlibat dalam liturgi di Bait Suci.  Dengan demikian siapapun yang mendaraskannya diajak dan diingatkan terus menerus akan kebesaran Tuhan di sepanjang perjalanan hidup.  Misalnya,  ayat 2-6, berisi ajakan kepada umat untuk bersyukur atas tindakan dan pertolongan di masa lalu yang telah “menarik, . . menyembuhkan . . mengangkat . . menghidupkan.”  Atas pengalaman yang luar biasa ini pemazmur mengagungkan nama Tuhan (ayat 2, 5, 13), memberikan korban syukur (ayat 5) dan menari-nari.  Jadi ungkapan syukur pemazmur sama sekali tidak bertitik tolak dari materi.  Artinya, bersyukur sebagai bentuk kenikmatan atas hidup tidak ditentukan dari apa yang kita punya dan tidak.  Tetapi ditentukan dari bagaimana kita memaknai perjalanan hidup sampai hari ini sebagai bukti kasih dan pertolongan Tuhan yang tidak berkeputusan. 

Sama halnya dengan makna Paskah yang menunjuk kepada karya penebusan dan pengampunan Kristus bagi dosa kita.  Paskah menjadi bukti demonstrasi kasih Allah yang rela mati demi manusia supaya barangsiapa yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.  Bukankah ini seharusnya menjadi alasan yang mendasari seluruh ungkapan syukur kita.  Jadi bukan berdasarkan apa yang kita punya (materi), tetapi berdasarkan apa yang Kristus sudah lakukan dalam hidup kita.

Refleksi
Renungkan dan mari kita menjawabnya dengan jujur?  Apa alasanku bersyukur kepada Tuhan? Mana yang lebih banyak sebagai alasan, hal-hal yang bersifat materi atau karya Tuhan yang mengijinkan segala keadaan terjadi dalam hidup?

Tekadku
Aku mau menikmati hidup ini di atas keyakinan bahwa Tuhan memelihara, menguatkan dan menolongku untuk melewati kesulitan hidup dengan hati yang penuh sukacita.  Aku tidak mau gampang mengeluh; aku mau belajar mensyukuri karya kasih Tuhan dalam hidupku. 

Tindakanku
Tuhan aku bersyukur untuk ………, walaupun aku belum melihat jalan terang untuk menyelesaikan persoalan yang aku hadapi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«